KabarIndonesia.id — Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arrmanatha Nasir menegaskan pentingnya tata kelola ekonomi global yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan negara-negara berkembang. Pernyataan itu disampaikan dalam Sesi Debat Umum Konferensi Tingkat Menteri ke-16 Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) di Jenewa, Selasa (21/10).
Arrmanatha, yang akrab disapa Tata, menekankan bahwa transformasi ekonomi global harus berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dunia, bukan semata-mata mengejar keuntungan. “Transformasi ekonomi global harus berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan rakyat. Tujuannya bukan semata untuk mengejar keuntungan, tetapi untuk mengangkat harkat kehidupan masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Kamis.
Ia menilai bahwa di tengah krisis multidimensi yang dihadapi dunia saat ini, transformasi ekonomi global bukan lagi pilihan, melainkan keharusan demi keberlanjutan umat manusia. “Transformasi ini bersifat eksistensial demi keberlanjutan umat manusia,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Tata juga mencontohkan semangat transformasi ekonomi yang dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan kepentingan rakyat sebagai inti agenda pembangunan nasional. “Seperti melalui program Makan Bergizi Gratis, Indonesia menghadirkan transformasi pembangunan melalui nutrisi, memperkuat kesehatan, pendidikan, dan kesetaraan, sekaligus memberdayakan ekonomi pedesaan,” katanya.
Selain itu, kebijakan hilirisasi industri dan digitalisasi ekonomi juga disebut sebagai bagian dari strategi Indonesia dalam menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan energi dan ekonomi nasional.
Konferensi Tingkat Menteri UNCTAD berlangsung pada 20–23 Oktober 2025 di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jenewa, Swiss, dan dihadiri oleh sekitar 90 menteri dan wakil menteri dari berbagai negara. Forum tersebut menjadi ajang utama bagi negara-negara anggota untuk menetapkan arah strategis UNCTAD di masa mendatang, khususnya dalam mendorong pembangunan dan perdagangan yang berkeadilan.
Selain mengikuti debat umum, Wamenlu Tata juga menghadiri pertemuan tingkat menteri G77 plus China dan melakukan sejumlah pertemuan bilateral, termasuk dengan Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan.












