KabarIndonesia.id — Anggota Komisi VII DPR RI Eva Monalisa menyoroti kinerja Bio Farma beserta anak perusahaannya, termasuk Indofarma, dalam kunjungan kerja Komisi VII DPR RI.
Eva mengapresiasi perbaikan kinerja keuangan yang ditunjukkan Indofarma, yang berhasil membalikkan dari kerugian menjadi mencatatkan laba. Namun, ia menegaskan bahwa tantangan utama industri farmasi nasional hingga kini masih terletak pada ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Hal tersebut disampaikan Eva usai mengikuti rapat Komisi VII DPR RI bersama Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian, Direktur Utama Bio Farma, Direktur Utama Kimia Farma, serta Direktur Utama Indofarma di PT Biro Farma, Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026).
“Ini kan Indofarma, Bio Farma. Kalau kita lihat, dari tadi seperti Pak Dirjen Kemenperin juga bilang, ini sebagai perusahaan yang bisa naik dari minus 53 miliar ini, jadi mendapat laba di 76 miliar kurang lebih. Ini satu hal yang mungkin kita bisa apresiasi, cuman yang saya jadi prihatin adalah bahan baku,” ujar Eva dalam keterangannya, dikutip Jumat (30/1/2026).
Menurut Eva, penguatan industri farmasi nasional tidak dapat terlepas dari pembenahan rantai industri secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
Ia menilai integrasi antara industri kimia dasar, petrokimia, serta bahan baku farmasi dengan Bio Farma belum berjalan optimal dan perlu diperkuat melalui kebijakan yang lebih terarah.
“Jadi dari hulu ke hilirnya ini belum maksimal juga. Jadi ini diperkenalkan untuk Kemenperin, mungkin kita bisa bangun dulu untuk hulu industrinya Bio Farma ini dengan integrasi dengan industri kimia dasar, petrokimia, bahan baku farmasinya ini mungkin bisa disembunyikan dulu,” katanya.
Eva juga menegaskan bahwa industri farmasi merupakan industri strategis nasional yang berkaitan langsung dengan aspek keamanan negara, bukan sekadar sektor ekonomi biasa.
Ia merasakan pengalaman pandemi COVID-19 sebagai pelajaran penting tentang urgensi kemandirian industri kesehatan nasional.
“Ini strategi industri nasionalnya ini untuk keamanan negara. Ini bukan sekadar sektor farmasi. Kalau kita lihat dari pengalaman kita COVID kemarin, kalau kita tidak cepat-cepat vaksin itu mungkin ekonomi kita juga sudah hancur, masyarakat banyak yang meninggal, dan negara bisa seperti negara-negara miskin yang lain, sudah porak-poranda ekonominya,” tegas politisi Fraksi PKB tersebut.
Oleh karena itu, Eva mendorong pemerintah agar memberikan insentif yang lebih agresif dan tepat sasaran bagi industri farmasi nasional, khususnya untuk pengembangan bahan baku yang belum dapat diproduksi di dalam negeri.
Ia juga menekankan pentingnya transfer teknologi serta kepastian pasar dari negara guna memperkuat kemandirian industri farmasi Indonesia ke depan.












