Indonesia Tegaskan Kepemimpinan di Pasar Karbon Global melalui Peluncuran CGCM di Inggris

Menteri LH Hanif Faisol Hadiri Peluncuran Coalition to Grow Carbon Market di London, Inggris

KabarIndonesia.id — Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menegaskan komitmen Indonesia sebagai pemimpin dalam pengembangan pasar karbon global dalam peluncuran Coalition to Grow Carbon Market (CGCM) di London Stock Exchange, Inggris, Selasa (24/6), sebagai bagian dari rangkaian London Climate Action Week.

“Indonesia memiliki potensi besar dalam perdagangan karbon, yang dapat dimaksimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus kontribusi terhadap pengendalian perubahan iklim global,” ujar Hanif dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Kamis (26/6).

Menteri Hanif menyampaikan bahwa Indonesia telah memulai perdagangan karbon domestik dan kini tengah membangun skema internasional yang berbasis pada prinsip TACCC (Transparan, Akurat, Konsisten, Lengkap, dan Komparabel). Hal ini dilakukan untuk menjamin integritas dan kredibilitas sistem perdagangan karbon nasional di kancah global.

CGCM merupakan inisiatif kolektif yang diprakarsai oleh Kenya, Singapura, dan Inggris, guna membangun pasar karbon sukarela (Voluntary Carbon Market) yang kredibel dan berintegritas tinggi. Indonesia, Panama, dan Peru diundang secara khusus sebagai mitra negara berkembang untuk menyampaikan pandangan strategisnya di hadapan para pemimpin global dari sektor publik, swasta, dan komunitas internasional.

Dalam pidato utamanya, Hanif menjadi wakil pertama yang menyampaikan arah kebijakan dan capaian Indonesia dalam pengembangan sistem nilai ekonomi karbon. Ia menegaskan bahwa pasar karbon bukan sekadar alat ekonomi, melainkan juga manifestasi komitmen moral dalam menjaga keberlanjutan Bumi, memperkuat kedaulatan nasional, serta mendorong kesejahteraan masyarakat.

Ia juga mengungkapkan bahwa Indonesia melalui KLH/BPLH telah menandatangani Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan sejumlah lembaga penerbit kredit karbon internasional. Kesepakatan ini memperkuat posisi Indonesia dalam membangun sistem perdagangan karbon yang terstandar, selaras dengan target Nationally Determined Contributions (NDC) Indonesia dalam Persetujuan Paris.

Hanif menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi antarnegara, baik dalam skala bilateral maupun multilateral, untuk memperkuat kepercayaan global terhadap mekanisme pasar karbon. Ia menyambut baik terbentuknya CGCM sebagai platform strategis yang mendukung keterlibatan negara-negara berkembang dalam arsitektur keuangan iklim global.

“Koalisi seperti CGCM penting untuk membangun kepercayaan global dan integritas dalam aksi iklim. Indonesia siap menjalin kolaborasi yang inklusif, seimbang, dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya penguatan kapasitas pelaku lokal, termasuk sektor swasta dan masyarakat sipil, dalam mengimplementasikan aksi iklim. Dalam konteks ini, Voluntary Carbon Market (VCM) disebut mampu menjembatani kesenjangan kapasitas antar aktor sekaligus mempercepat transisi menuju sistem pasar karbon yang terintegrasi.

“VCM dapat memperkuat kemampuan para pelaksana aksi iklim di tingkat tapak. Kolaborasi antara pemerintah dan pasar karbon sukarela menjadi krusial dalam mendukung pencapaian target Persetujuan Paris,” pungkas Hanif.