KabarIndonesia.id — Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka di tengah kekhawatiran pasar dan dunia internasional atas memanasnya konflik di Timur Tengah.
Dubes Boroujerdi menyebut, Iran hanya menerapkan protokol lalu lintas khusus pada masa perang untuk menjaga keamanan, seraya menyindir Amerika Serikat sebagai pihak yang justru mengganggu stabilitas kawasan tersebut.
Penegasan tersebut muncul ketika Selat Hormuz kembali menjadi sorotan global karena jalur laut itu merupakan salah satu titik paling strategis di dunia dan dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.
“Yang khawatir terkait penutupan selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh sekali ke kawasan Timur Tengah kemudian mengganggu keamanan di selat Hormuz,” kata Dubes Boroujerdi kepada media, dikutip Jumat (6/3/2026).
Boroujerdi menegaskan, Selat Hormuz tetap dapat dilalui selama pihak-pihak yang melintas mematuhi protokol yang diterapkan Iran dalam kondisi perang.
Dalam penjelasannya, Iran menempatkan dirinya sebagai pihak yang menjaga keamanan lalu lintas di selat tersebut.
“Selat Hormuz tidak ditutup. Selat Hormoz tetap terbuka. Dan kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan. Di selat ini hanya memperlakukan protokol lalu lintas yang khusus untuk saat-saat perang. Pihak-pihak yang memang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati selat Hormuz,” tegasnya.
Ia menambahkan, Selat Hormuz merupakan kawasan yang selama ini dijaga Iran demi kepentingan keamanan bersama, termasuk bagi negaranya sendiri.
Menurut Boroujerdi, Iran tidak menginginkan ada negara lain yang memanfaatkan keamanan di jalur tersebut untuk kepentingan tertentu.
Di sisi lain, situasi di lapangan yang menunjukkan ketegangan di kawasan memang berdampak serius terhadap pelayaran global.
Konflik yang meluas antara Amerika Serikat dan Iran telah menghambat pengiriman melalui Selat Hormuz selama beberapa hari, menyebabkan lebih dari 200 kapal tertahan di perairan terbuka dan ratusan kapal lain tidak bisa mencapai pelabuhan di kawasan Teluk.
Pernyataan Dubes Iran itu juga datang di tengah laporan media Iran yang menyebut Korps Garda Revolusi Islam Iran telah menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal karena jalur tersebut dinilai tidak aman akibat serangan AS dan Israel.
Dampak dari ketegangan itu ikut mendorong peningkatan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Harga minyak Brent sempat bergerak di kisaran lebih dari 80 dolar AS per barel, sementara sejumlah analis memperingatkan harga bisa naik lebih tinggi jika gangguan berlangsung lama.
Terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, Selat Hormuz merupakan satu-satunya jalur laut dari kawasan Teluk menuju laut lepas.
Posisi ini menjadikan Hormuz sangat vital, tidak hanya bagi negara-negara produsen minyak di Timur Tengah, tetapi juga bagi pasar energi global, termasuk negara-negara Asia yang sangat bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.
Ketegangan di kawasan itu juga berdampak pada Indonesia. Pemerintah Indonesia sebelumnya menyatakan tengah melakukan negosiasi untuk membebaskan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang masih berada di kawasan Selat Hormuz.
Pertamina juga telah memastikan kondisi awak kapal tetap aman sambil terus mengikuti perkembangan situasi.
Dengan situasi yang masih dinamis, pernyataan Iran bahwa Selat Hormuz tetap terbuka menjadi sorotan penting, terutama bagi negara-negara yang berkepentingan terhadap kelancaran pasokan energi dan keselamatan pelayaran internasional.
Namun perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa keamanan dan akses pelayaran di kawasan tersebut masih sangat rentan terhadap eskalasi konflik.












