Dinkes Sulbar dan MSF Gelar Pelatihan Krisis Kesehatan di Daerah Rawan Bencana

Dinas Kesehatan Sulbar Gandeng Médecins Sans Frontières Latih Petugas Tanggap Krisis

KabarIndonesia.id — Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) bekerja sama dengan lembaga internasional Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas serta Kementerian Kesehatan menggelar pelatihan krisis kesehatan.

“Pelatihan ini sangat relevan dengan kondisi geografis Sulbar yang rawan bencana,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Sulbar, Nursyamsi Rahim, di Mamuju, Kamis.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari proyek Capacity Building Hub on Emergency Preparedness and Response (e-Hub) yang sebelumnya telah dilaksanakan oleh MSF Indonesia pada Juni 2025. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam kesiapsiagaan dan penanganan krisis kesehatan di wilayah rawan bencana, sekaligus membangun kapasitas pelatih lokal (Training of Trainer/TOT) agar mampu melatih tenaga kesehatan lainnya di masa depan.

Pelatihan menghadirkan tim pelatih dari Médecins Sans Frontières (MSF) dan diikuti oleh tenaga kesehatan dari berbagai kabupaten di Sulbar. Peserta mendapatkan pembekalan dalam empat bidang penting, yakni pengambilan data dalam situasi darurat (data manajemen), respon medis dalam keadaan darurat (medical emergency), Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis, serta pengelolaan limbah medis saat tanggap darurat bencana (environmental health).

Nursyamsi menekankan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal alat dan logistik, tetapi juga kemampuan sumber daya manusia. “Melalui pelatihan ini, kita ingin memastikan setiap tenaga kesehatan di Sulawesi Barat mampu merespons cepat, tepat, dan tangguh dalam situasi krisis,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor dan dukungan lembaga internasional seperti MSF menjadi langkah nyata dalam memperkuat sistem tanggap darurat kesehatan di daerah.

“Pelatihan ini diharapkan dapat mencetak pelatih lokal yang kompeten serta membentuk jejaring tanggap darurat kesehatan yang solid di tingkat provinsi dan kabupaten. Dengan demikian, Sulbar semakin siap menghadapi berbagai potensi bencana dengan respons yang cepat, terkoordinasi, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat,” kata Nursyamsi.