KabarIndonesia.id — Suku Dayak di Kalimantan terkenal sebagai salah satu suku yang dikenal dengan adat dan kebudayaannya yang masih lestari hingga kini.
Namun, untuk menikmati dan mengunjungi wilayah Suku Dayak pedalaman, terdapat sejumlah pantangan yang harus masih dipercaya dan harus diperhatikan oleh pengunjung yang berminat mengunjungi Suku tersebut.
Berikut tiga pantangan dari Suku Dayak yang masih dipercaya masyarakat setempat:
1. Dilarang Berteriak
Berteriak menjadi salah satu pantangan jika berkunjung ke Suku Dayak.
Hal itu lantaran berteriak bagi masyarakat suku Dayak adalah pertanda adanya sebuah musibah.
Di suku Dayak Kalimantan, orang akan berteriak ketika menghadapi musibah seperti banjir, kebakaran, ataupun orang hilang.
Untuk itu tidak boleh sembarangan berteriak karena umumnya akan diartikan sebagai memanggil karena ada musibah.
Berteriak boleh dilakukan untuk saat-saat tertentu seperti menghadiri pertandingan bola dengan tujuan meramaikan.
Namun apabila berteriak histeris, terlebih saat berada di hutan maka dapat didatangi oleh penunggu hutan.
2. Dilarang Bakar Ikan Asin dan Terasi
Di suku Dayak ada pantangan saat berada di tempat sakral atau di hutan yakni dilarang membakar ikan asin dan terasi.
Menurut masyarakat setempat, ikan asin dan terasi itu tidak boleh dibakar karena bisa mengundang hal-hal yang tidak diinginkan datang.
3. Menghina Patung
Terakhir di Suku Dayak Kalimantan, terdapat sebuah larangan menghina patung yang biasanya terletak di depan rumah adat.
Hal itu lantaran patung tersebut merupakan simbol dari orang yang telah meninggal dunia yang memiliki makna khusus dan harus dihormati.
Jika melanggar, maka pengunjung yang menghina akan didatangi oleh makhlus halus dan terus diganggu sampai orang tersebut meminta maaf kepada keluarga pemilik patung. (Sumber: KabarDayak.com)














