KabarIndonesia.id — Upaya pencarian korban ambruknya musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, kini telah memasuki hari kelima, Jumat (3/10/2025). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, hingga hari ini sebanyak 9 santri ditemukan meninggal dunia dari balik reruntuhan bangunan.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, S.Sos., M.M. dalam konferensi pers menyampaikan, evakuasi terakhir pada Jumat pagi berhasil menemukan empat jenazah tambahan, sehingga total korban meninggal mencapai sembilan orang.
Secara keseluruhan terdapat 166 korban dalam musibah ini berdasarkan data presensi pondok pesantren. Dari jumlah tersebut, 111 orang telah ditemukan dalam kondisi selamat maupun meninggal dunia. Sekitar 54 orang lainnya masih belum diketahui nasibnya, jelas Suharyanto.
Penggunaan Alat Berat Dimulai Hari Kelima
Suharyanto menjelaskan, alat berat baru mulai digunakan pada hari kelima operasi setelah melalui serangkaian asesmen keamanan struktur bangunan. Meskipun alat berat telah tersedia sejak hari pertama, penggunaannya sempat ditunda.
Hingga hari ketiga, tim SAR masih dalam masa golden time, dengan harapan masih ada korban yang bisa diselamatkan. Struktur reruntuhan yang rapuh membuat penggunaan alat berat terlalu berisiko bagi korban dan petugas, jelasnya.
Keputusan untuk mulai menggunakan alat berat baru diambil setelah diyakini kemungkinan korban hidup sudah sangat kecil, serta telah dilakukan koordinasi dengan keluarga korban.
Dukungan dan Keikhlasan Wali Santri
Menurut Suharyanto, langkah penggunaan alat berat telah mendapat dukungan dan persetujuan dari para wali santri.
Seluruh pihak keluarga korban sudah merelakan dan mengikhlaskan apabila penggunaan alat berat bisa memengaruhi kondisi jenazah di bawah reruntuhan, katanya.
BNPB sebelumnya telah menggelar pertemuan dengan para wali santri untuk menjelaskan perkembangan evakuasi dan berbagai kemungkinan yang akan terjadi di lapangan.
Proses Evakuasi Penuh Risiko
Musibah ini menjadi perhatian publik karena jumlah korban yang besar dan sulitnya medan evakuasi. Struktur bangunan yang ambruk sepenuhnya membuat petugas harus membuat lorong sempit di bawah reruntuhan pada tiga hari pertama demi keselamatan mereka sendiri sekaligus meminimalkan risiko tambahan bagi korban.
Langkah yang kami ambil semuanya berdasarkan perhitungan yang sangat cermat, tegas Suharyanto.
Lebih dari 400 personel dilibatkan dalam operasi pencarian, terdiri dari Basarnas, TNI-Polri, BPBD, Damkar, Tagana, Dinas PU, serta relawan. Para petugas bekerja tanpa henti selama 24 jam dengan bantuan berbagai alat deteksi dan peralatan evakuasi canggih.
Dengan bantuan alat berat, tim SAR kini telah berhasil membersihkan material pada lapisan kedua dan ketiga reruntuhan. Fokus pencarian berikutnya akan diarahkan ke lantai dasar, yang diyakini menjadi lokasi dengan korban terbanyak.
Potensi penemuan jenazah masih ada. Kami akan terus sampaikan setiap perkembangan yang terjadi, tutup Kepala BNPB.















