KabarIndonesia.id — Kediaman mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jalan Kutai Utara Nomor 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, mendadak viral setelah muncul label “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps.
Fenomena ini ramai sejak akhir pekan lalu dan menyebar luas melalui video TikTok serta Instagram, memicu banyak warga datang ke lokasi untuk berfoto hingga membuat konten bernuansa humor.
Perubahan nama lokasi di Google Maps pertama kali terdeteksi pada Sabtu (15/2/2026). Seorang pengguna mengedit nama titik tersebut menjadi “Tembok Ratapan Solo”, merujuk pada Tembok Ratapan (Tembok Barat) di Yerusalem yang dikenal sebagai tempat umat Yahudi menyampaikan doa dan keluh kesah.
Di Solo, istilah itu berkembang menjadi konten kreatif netizen, baik sebagai konten komedi maupun ekspresi nostalgia.
Unggahan awal dari akun Instagram @indopium menampilkan seorang pemuda berpura-pura meratap di depan pagar rumah Jokowi. Video tersebut ditonton jutaan kali dan memicu gelombang konten serupa.
Sejak saat itu, label lokasi tersebut dipenuhi komentar warganet seperti “Spot hype buat Gen Z” hingga “Tembok ratapan di Solo kini jadi viral”.
Ajudan pribadi Jokowi, Syarif Muhammad Fitriansyah, menanggapi dengan santai fenomena tersebut.
Ia mengaku sudah mengetahui label itu dan tidak merasa terganggu. “Ya, saya sudah tahu,” katanya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan pengunjung di sekitar rumah, ia menjawab, “Tidak ada, seperti biasa saja.”
Hingga kini, Google Indonesia belum memberikan keterangan resmi. Sejumlah pengguna diketahui telah melaporkan perubahan nama lokasi agar dikembalikan seperti semula.
Sejumlah tokoh masyarakat Solo menilai fenomena ini sebagai bentuk kreativitas warga yang khas dan tidak menimbulkan gangguan berarti.
Banyak netizen yang memanfaatkan momen tersebut untuk bercanda sekaligus menyampaikan nostalgia atau harapan pribadi.
Meski kemungkinan bersifat sementara, kemunculan label “Tembok Ratapan Solo” berhasil menciptakan gelombang konten viral yang ringan dan menghibur.
Tanggapan santai dari pihak Jokowi juga menyoroti bahwa fenomena tersebut tidak dianggap sebagai masalah serius.












