KabareIndonesia.id — Sebuah survei terbaru mengungkap bahwa hampir 70% warga Israel menilai rezim pendudukan mereka berperan layaknya “negara bawahan” Amerika Serikat (AS). Mayoritas publik Israel percaya Washington merupakan pihak yang mengendalikan kebijakan politik dan militer Israel di balik layar.
Menurut hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Saluran 12 Israel, sebanyak 67% responden menjawab “ya” ketika ditanya apakah mereka menganggap Israel sebagai negara klien AS. Hanya 25% yang menilai Israel bertanggung jawab penuh atas keputusan politik dan militernya, sementara 6% menyatakan tidak tahu.
Sebanyak dua pertiga responden juga meyakini bahwa AS adalah pengambil keputusan utama di balik serangan Israel di Jalur Gaza yang disebut komunitas internasional sebagai tindakan genosida.
Dalam kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke wilayah pendudukan Israel pada 22 Oktober lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membantah anggapan tersebut dan menyebutnya sebagai “omong kosong.” Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump sehari setelahnya justru memperkuat persepsi publik.
Dalam wawancara dengan majalah Time, Trump mengaku secara pribadi telah memberikan izin atas serangan ledakan ponsel dan pager di Lebanon pada September 2024 yang dilakukan Israel. “Semua serangan itu dilakukan di bawah pengawasan saya, dengan Israel yang mengeksekusinya,” kata Trump.
Ia juga menyebut bahwa serangan Israel ke Suriah pada tahun yang sama dilakukan dengan persetujuannya, serta mengakui mengetahui sepenuhnya operasi rahasia Israel di Doha yang menargetkan pimpinan Hamas.
Sejak gencatan senjata Hamas–Israel dimediasi oleh AS pada Oktober 2024, Trump berulang kali menegaskan bahwa dirinya berperan langsung dalam memastikan Israel tetap “berada di jalur kesepakatan,” meskipun pelanggaran berulang terjadi di lapangan.
Sejak awal agresi Israel ke Gaza pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 68.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 170.000 orang, AS diketahui telah menyalurkan bantuan militer senilai 40 miliar dolar AS kepada Tel Aviv — mencakup sekitar 68% dari total peralatan dan persenjataan yang digunakan Israel dalam konflik tersebut.
Hasil survei ini menyoroti persepsi yang semakin kuat di kalangan publik Israel bahwa kedaulatan negara mereka kian bergantung pada keputusan politik Washington, terutama dalam urusan keamanan dan militer.












