News  

Presiden Venezuela Bantah Tuduhan Narkoterorisme, Sebut AS Cari Alasan Invasi

Presiden Venezuela Bantah Tuduhan Narkoterorisme, Sebut AS Cari Alasan Invasi
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (Dok : Int).

KabarIndonesia.id — Presiden Venezuela Nicolas Maduro membantah keras tuduhan narkoterorisme yang dituduhkan kepadanya oleh Amerika Serikat. Ia menilai tudingan tersebut sengaja direkayasa untuk mencari pembenaran atas rencana invasi militer ke Venezuela.

Dua malam sebelum penangkapannya oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Maduro sempat menyampaikan pesan terbuka kepada publik Amerika Serikat. Dalam tur keliling ibu kota Venezuela pada malam Tahun Baru, ia menegaskan sikap damai pemerintahannya.

“Amerika harus tahu bahwa di sini mereka memiliki teman, sebuah negara yang damai, dan pemerintah yang ramah. Pesan kami sangat jelas, Tidak ada perang. Ya, perdamaian,” kata Maduro, dikutip dari The New York Times, Minggu (4/1/2026).

Pernyataan tersebut mencerminkan upaya Maduro dalam beberapa bulan terakhir untuk membangun citra sebagai pemimpin yang mengedepankan perdamaian.

Dalam berbagai demonstrasi di seluruh Venezuela, ia kerap menyanyikan lagu Imagine karya John Lennon, menari mengikuti irama musik techno yang dipadukan dengan slogan perdamaian, hingga menirukan gaya Bobby McFerrin dalam lagu populernya yang mengajak pendengar untuk bersantai.

Meski demikian, Maduro juga kerap menunjukkan sikap tegas terhadap apa yang ia sebut sebagai kekuatan imperialis. Namun, ketika Amerika Serikat mulai mengincarnya, ia mengaku justru menginginkan dialog dan kesepakatan.

“Pemerintah AS mengetahui hal ini karena kami telah memberi tahu banyak pejabat mereka. Jika mereka ingin melakukan percakapan serius tentang perjanjian anti-narkoba, kami siap. Jika mereka menginginkan minyak Venezuela, Venezuela siap menerima investasi AS – seperti dengan Chevron – kapan pun, di mana pun, dan bagaimana pun mereka menginginkannya. Masyarakat di AS harus tahu bahwa jika mereka menginginkan perjanjian pembangunan ekonomi yang komprehensif, Venezuela ada di sini,” kata dia.

Di sisi lain, Trump berulang kali menyebut Maduro sebagai pemimpin kartel narkoba. Pada Sabtu (3/1), jaksa federal AS mendakwa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, atas tuduhan terorisme narkoba dan konspirasi untuk mengimpor kokain ke Amerika Serikat.

Maduro menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa pemerintahannya justru aktif memerangi jaringan narkotika lintas negara, khususnya dari Kolombia. Ia mengklaim pasukan Venezuela telah menembak jatuh 431 pesawat penyelundup narkoba yang melintas di wilayah udara negaranya.

Menurut Maduro, tuduhan sebagai pemimpin kartel sengaja diciptakan Washington untuk membenarkan agresi militer terhadap Venezuela.

“Mereka tidak bisa menuduh saya atau Venezuela memiliki senjata pemusnah massal, atau rudal nuklir, atau senjata kimia. Jadi mereka mengarang tuduhan yang pemerintah AS tahu sama palsunya dengan klaim senjata pemusnah massal yang membawa mereka ke dalam perang abadi,” katanya.

Trump juga mengklaim telah berbicara dengan Maduro “beberapa kali,” termasuk dalam waktu dekat. Namun, Maduro membantah adanya komunikasi terbaru tersebut.

Ia menegaskan hanya pernah berbicara sekali dengan Trump, yakni pada 21 November, dalam percakapan telepon selama 10 menit yang disebutnya berlangsung “sangat sopan”.

Pada Sabtu (3/1/2026), Trump mengumumkan penangkapan Maduro dan membawanya ke New York. Maduro dilaporkan ditahan di Pusat Penahanan Metropolitan, Brooklyn.

Maduro dan istrinya sebelumnya dibawa ke sebuah kapal perang, lalu diterbangkan dengan pesawat yang mendarat di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart, New York.

Dalam operasi penangkapan tersebut, Amerika Serikat mengerahkan pasukan elite Delta Force, unit misi khusus militer AS, untuk melancarkan serangan ke Venezuela.