Industri Otomotif Lokal Belum Jadi Pemain Utama, DPR Dorong Reformasi Serius

KabarIndonesia— Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Ermarini, menyoroti ketimpangan dominasi pasar otomotif nasional yang hingga kini masih didominasi produk luar negeri. Ia menilai keberadaan mobil buatan Indonesia belum mampu tampil sebagai pemain utama di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat.

“Persaingan sektor mobil di Indonesia sangat kompetitif. Tapi produk lokal belum tampil sebagai pemain utama. Kita masih terlalu bergantung pada mobil impor atau merek asing yang dirakit di Indonesia,” ujar Anggia, Rabu (6/8).

Menurut legislator dari Fraksi PKB ini, kondisi tersebut menjadi sinyal bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis guna membangkitkan industri otomotif nasional. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan produksi mobil dalam negeri, baik dari sisi sumber daya manusia, infrastruktur manufaktur, maupun minat pasar.

“Indonesia tidak kekurangan sumber daya manusia dan kemampuan teknis. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberpihakan nyata dari pemerintah terhadap industri mobil nasional,” tegasnya.

Anggia mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan menyeluruh kepada produsen otomotif lokal. Bentuk dukungan tersebut dapat berupa insentif fiskal, penyederhanaan perizinan usaha, kemudahan pembiayaan, riset dan pengembangan teknologi, serta akses yang lebih luas ke pasar domestik dan ekspor.

“Sudah waktunya kita dorong inovasi dan kemandirian teknologi otomotif dalam negeri. Jangan sampai kita hanya jadi pasar, tapi tidak punya daya saing produksi,” tambahnya.

Selain soal kebijakan, Anggia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem otomotif nasional yang kuat dan berkelanjutan. Ia menyebut sinergi antara pemerintah, pelaku industri, lembaga riset, kampus, dan pelaku UMKM sebagai kunci memperkuat rantai pasok komponen mobil dalam negeri.

“Kalau semua potensi ini disinergikan, saya optimis mobil buatan Indonesia bisa bersaing. Bukan hanya di pasar domestik, tapi juga punya peluang menembus pasar ekspor,” pungkasnya.

Saat ini, industri otomotif nasional masih didominasi oleh merek-merek global yang memiliki fasilitas perakitan di dalam negeri. Namun, sebagian besar komponen masih bergantung pada impor. Situasi ini membuat mobil buatan Indonesia belum sepenuhnya mandiri secara teknologi maupun nilai tambah dalam negeri.

Anggia menilai sudah saatnya Indonesia memiliki merek mobil nasional yang kompetitif, bukan hanya sebagai simbol kebanggaan, tapi sebagai instrumen pertumbuhan ekonomi dan penguatan industri strategis nasional.