News  

Indonesia Desak PBB Usut Serangan Israel yang Tewaskan Prajurit TNI

Indonesia Desak PBB Usut Serangan Israel yang Tewaskan Prajurit TNI
Prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) (Dok : Ist).

KabarIndonesia.id — Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh atas serangan di Lebanon selatan yang menandakan tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Desakan tersebut disampaikan oleh Wakil Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, dalam sidang Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat.

Indonesia menuntut agar investigasi dilakukan secara cepat, transparan, dan akuntabel, serta memastikan para pelaku bertanggung jawab tanpa adanya kekebalan hukum.

“Para penjaga perdamaian ini gugur dan terluka saat menjalankan amanah Dewan Keamanan,” tegas Umar Hadi, dikutip Kamis (2/4/2026).

Tiga prajurit TNI yang gugur dalam kejadian tersebut adalah Zulmi Aditya Iskandar , Muhammad Nur Ichwan , dan Fahrizal Rhomadhon.

Berdasarkan laporan, Praka Fahrizal gugur di pos UNIFIL di wilayah Adchit Al Qusayr, sementara Kapten Zulmi dan Sertu Muhammad meninggal dunia dalam serangan terhadap konvoi logistik di Bani Hayyan.

Selain korban jiwa, lima prajurit lainnya mengalami luka-luka, yakni Kapten Sultan Wirdean Maulana, Kopral Rico Pramudia, Kopral Arif Kurniawan, Kopral Bayu Prakoso, dan Kadet Prajurit Deni Rianto.

Indonesia juga mendesak agar pemulangan jenazah dilakukan secara cepat, aman, dan aman, serta memastikan seluruh korban luka mendapatkan perawatan medis terbaik.

Dalam forum tersebut, Indonesia menekankan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama dan dilindungi sesuai hukum internasional.

Umar Hadi juga mendorong adanya langkah darurat, termasuk peninjauan ulang protokol keamanan serta kesiapan untuk mengantisipasi eskalasi konflik di lapangan.

“Indonesia mendesak semua pihak, termasuk Israel, untuk menghentikan agresi dan mematuhi hukum internasional demi menjamin keselamatan personel PBB,” ujarnya.

Sidang Dewan Keamanan tersebut diinisiasi oleh Indonesia bersama Prancis sebagai bentuk komitmen terhadap misi perdamaian dunia yang telah dijalankan Indonesia sejak tahun 1957.

Langkah ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia dalam memperjuangkan perlindungan maksimal bagi perdamaian di tengah meningkatkan konflik global.