News  

Di Balik Gempa M7,6 Sulut, Begini Cara Kerja Peringatan Dini BMKG

Di Balik Gempa M7,6 Sulut, Begini Cara Kerja Peringatan Dini BMKG
Konferensi pers Gedung BNPB (Dok : Ist).

KabarIndonesia.id — Gempa bumi berkekuatan 7,6 yang mengguncang wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara membuka perhatian masyarakat terhadap sistem peringatan dini tsunami di Indonesia. BMKG memastikan seluruh proses penyampaian informasi telah berjalan cepat, akurat, dan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa sistem peringatan dini tsunami memiliki tahapan waktu yang ketat dan diukur sejak gempa terjadi.

“Dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa, BMKG harus menyampaikan informasi awal berupa parameter gempa, potensi tsunami, estimasi waktu tiba, dan tingkat ancaman,” ujarnya dalam rapat koordinasi di Gedung BNPB, Jakarta, dikutip Jumat (3/4/2026).

Pada kejadian ini, BMKG bahkan berhasil merilis informasi pertama hanya dalam 2 menit 45 detik setelah gempa terjadi. Selanjutnya, peringatan tahap kedua disampaikan dalam waktu kurang dari 10 menit, tidak menyarankan pembaruan informasi pada menit ke-30 hingga 60.

Seluruh rangkaian informasi tersebut ditutup maksimal 120 menit setelah estimasi waktu tiba tsunami pertama, untuk memberi ruang bagi pemerintah dan masyarakat melakukan langkah mitigasi.

Selain itu, BMKG juga mengirimkan data ke sistem internasional seperti Pusat Informasi Gempa Bumi ASEAN dan Sistem Peringatan Tsunami Samudera Hindia (IOTWS), sebagai bagian dari koordinasi global dalam mitigasi bencana.

Dalam proses pemantauan, BMKG menggunakan jaringan tide gauge untuk mendeteksi perubahan muka air laut. Hasilnya, terdeteksi ketinggian hingga 0,75 meter di beberapa wilayah.

Meski tergolong kecil, Faisal mengingatkan bahwa kondisi geografis wilayah kepulauan dapat memperbesar dampak gelombang tsunami.

“Kondisi topografi dapat menyebabkan amplifikasi gelombang, sehingga kewaspadaan tetap harus ditingkatkan,” tegasnya.

Hingga siang hari, BMKG mencatat 93 gempa susulan dengan magnitudo hingga 5,8, di mana beberapa di antaranya dirasakan masyarakat. Gempa ini termasuk jenis dangkal akibat aktivitas membekukan kerak bumi dengan mekanisme sesar naik.

Dampak gempa bumi dirasakan kuat di Ternate dengan intensitas V–VI MMI, sementara di Manado mencapai IV–V MMI, serta wilayah Gorontalo dan sekitarnya pada skala II–III MMI.

Di sisi lain, BMKG juga menerima laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi terkait peningkatan aktivitas gunung api yang diduga dipicu aktivitas tektonik pascagempa.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya mengakses informasi resmi guna menghindari hoaks.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pastikan hanya dari sumber resmi BMKG,” ujar Faisal.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana , Suharyanto , mengapresiasi kecepatan informasi BMKG yang dinilai krusial dalam penanganan bencana berbasis data ilmiah.

“Informasi BMKG menjadi acuan penting agar masyarakat tidak panik dan tetap terarah,” ujarnya.

Senada, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno , menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap respons bencana.

“Jangan diingat setiap detik informasi peringatan dini.Semua tindakan harus berdasarkan data sains,” tegasnya.

Pemerintah juga menegaskan komitmen penuh dalam penanganan bencana, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto , dengan mengerahkan seluruh elemen terkait untuk mempercepat percepatan, pendataan, dan pemulihan.

Melalui sistem peringatan dini yang cepat dan terintegrasi, BMKG memastikan Indonesia terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, demi melindungi keselamatan masyarakat di tengah ancaman geologi yang tinggi.