APBN Tetap Solid, Pendapatan Negara Tembus Rp574,9 Triliun hingga Maret 2026

Tak Cuma APBN, Menkeu: Swasta Jadi Kunci Genjot Ekonomi 8 Persen
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Dok : Ist).

KabarIndonesia.id — Pemerintah memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap kuat dan mampu menjadi bantalan (shock absorber) di tengah cakupan global. Hingga triwulan I tahun 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun, menunjukkan kinerja fiskal yang solid dan pertumbuhan ekonomi yang terjaga.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan capaian tersebut dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026). Ia menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kuat meskipun dihadapkan pada tekanan geopolitik global.

Pendapatan Negara Tumbuh 10,5 Persen

Pendapatan negara hingga akhir Maret 2026 tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini terutama ditopang sektor perpajakan yang meningkat signifikan hingga 20,7 persen setiap tahunnya (year on year).

Lonjakan paling mencolok terjadi pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang tumbuh hingga 57,7 persen. Angka ini menunjukkan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi juga meningkat 15,8 persen, menandakan peningkatan kesejahteraan serta meningkatnya pemenuhan wajib pajak, termasuk pasca implementasi sistem Coretax.

PNBP Tetap Sesuai Target

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp112,1 triliun atau sekitar 24,4 persen dari target APBN. Meski mengalami kontraksi 3 persen akibat merusak harga komoditas, capaian tersebut masih dinilai berada dalam jalur yang aman.

Belanja Meningkat, Defisit Tetap Terkendali

Di sisi belanja negara, pemerintah mencatat pertumbuhan sebesar 31,4 persen secara tahunan. Meski belanja meningkat, defisit APBN hingga triwulan I tetap terjaga di level 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menkeu menegaskan, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario mitigasi, termasuk menjaga harga energi agar tetap stabil.

“Kami siap menjaga harga BBM bersubsidi tetap tidak naik hingga akhir tahun 2026. Langkah ini tetap aman bahkan jika asumsi harga minyak mentah dunia mencapai rata-rata 100 dolar AS per barel,” ujarnya.

Didukung Bantalan Fiskal Rp420 Triliun

Kekuatan APBN juga diperkuat oleh Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun yang berfungsi sebagai bantalan fiskal untuk menghadapi potensi gejolak ekonomi ekstrem.

Dengan cadangan tersebut, pemerintah optimistis mampu menjaga stabilitas perekonomian nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat.

Indikator Ekonomi Tetap Positif

Secara makro, kondisi ekonomi Indonesia juga menunjukkan tren positif. Inflasi pada Maret 2026 tercatat 3,48 persen (yoy), atau sekitar 2,51 persen jika disesuaikan dengan faktor anomali harga listrik.

Selain itu, sektor manufaktur terus berada di zona ekspansi selama delapan bulan berturut-turut. Indikator lain seperti penjualan kendaraan bermotor dan konsumsi air mani juga menunjukkan peningkatan, yang menandakan daya beli masyarakat tetap kuat.

Pemerintah pun optimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 dapat mencapai 5,5 persen atau bahkan lebih tinggi.

“Keadaan APBN kita masih terjaga. Kita sudah memperhitungkan penjagaan yang cermat berlapis-lapis untuk memastikan ekonomi kita aman dan rakyat terlindungi,” pungkas Purbaya.