News  

Trump Dukung Demonstran Iran Ambil Alih Negara, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas

Trump Ultimatum Iran soal Program Nuklir: Minta Kesepakatan AS–Iran dalam Satu Bulan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Dok : Int).

KabarIndonesia.id — Peta geopolitik Timur Tengah kembali berguncang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mendukung demonstrasi di Iran untuk mengambil alih lembaga-lembaga negara, sebuah pernyataan yang langsung memicu protes keras dan memperdalam eskalasi konflik kawasan.

Dalam pidatonya di Detroit Economic Club, Selasa (13/1/2026) waktu setempat, yang juga diunggah melalui platform Truth Social, Trump menyatakan dukungan penuh terhadap gelombang protes di Iran yang belakangan terus membesar.

“Semua patriot Iran, teruslah memprotes. Ambil alih institusi-institusi kalian jika memungkinkan. Dan simpan nama-nama pembunuh serta penyiksa yang menyiksa kalian,” ujar Trump, dikutip dari Russia Today, Rabu (14/1/2026).

Ia menegaskan pihak-pihak yang bertanggung jawab akan “membayar harga yang sangat mahal.” Gelombang peningkatan di Iran dipicu oleh merosotnya nilai tukar mata uang nasional sejak akhir Desember lalu.

Hingga kini, jumlah korban masih menjadi jiwa. Media Barat dan kelompok aktivis mengklaim korban mencapai ribuan orang, sementara laporan resmi pemerintah Iran mencatat angka ratusan. Trump menyebut masih memverifikasi data tersebut sebelum menentukan langkah lanjutan.

Saat ditanya mengenai bentuk bantuan yang menjanjikan Amerika Serikat, Trump mengisyaratkan tekanan ekonomi sebagai salah satu opsi utama, termasuk upaya mengisolasi Iran dari perdagangan internasional.

“Ada banyak bantuan dalam berbagai bentuk, termasuk ekonomi dari sudut pandang kami yang tidak akan banyak membantu (pemerintah) Iran,” kata Trump dalam wawancara dengan CBS News. Pernyataan itu Merujuk pada rencana penerapan tarif baru terhadap negara mana pun yang tetap berbisnis dengan Teheran.

Trump juga tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Ia menyentuh kebijakan luar negerinya di masa lalu, mulai dari keterlibatan AS di Venezuela hingga operasi yang melemahkan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi dan Jenderal Iran Qasem Soleimani.

“Tujuan akhirnya menang. Saya suka menang,” tegasnya.

Pemerintah Iran menanggapi keras pernyataan tersebut dengan menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai aktor di balik pembebasannya. Teheran menyebut kondisi ini sebagai “perang teroris” yang didukung pihak asing, serta peringatan akan menyerang pasukan AS di Timur Tengah jika terjadi intervensi langsung.

Sementara itu, Rusia sebagai sekutu Iran ikut angkat suara. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menuduh Barat tengah berupaya menghancurkan Iran melalui skenario “revolusi warna” dengan memanfaatkan krisis ekonomi yang justru dipicu oleh sanksi Amerika Serikat.

Di tengah ketegangan yang meningkat, Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan peringatan tingkat tinggi kepada warga negaranya di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut.

Langkah serupa juga diambil oleh Kanada, Australia, Jerman, dan Prancis, dengan alasan risiko terisolasi sewenang-wenang serta potensi eskalasi konflik yang bisa terjadi sewaktu-waktu.