News  

Kecam Konflik Lahan di Seruyan, Amnesty Internasional Minta Usut Tuntas

KabarIndonesia.ID

KabarIndonesia.id — Amnesty Internasional Indonesia mengecam tindakan kekerasan dengan senjata api yang diduga dilakukan oleh aparat terhadap warga yang sedang bersengketa dengan perusahaan sawit di Desa Bangkal, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang meninggal dalam insiden tersebut.

“Kami mengecam penggunaan kekerasan yang terjadi antara aparat negara dengan warga sipil terkait konflik agraria, kali ini terjadi di Seruyan, sehingga menimbulkan korban jiwa dan korban luka-luka serta puluhan warga sempat ditangkap. Kami menyatakan belasungkawa kepada keluarga korban yang meninggal dalam insiden tersebut, dan kami berharap kesembuhan bagi mereka yang terluka," ungkapnya, dalam keterangan pers yang diterima, Senin (09/10). 

Usman Hamid menuntut penyelidikan independen dan adil dalam mengusut insiden tersebut.

“Pihak berwenang harus menjalankan penyelidikan yang independen dan adil untuk memastikan yang terjadi di Seruyan, dan apakah ada tindakan aparat kepolisian yang tidak sesuai dengan protokol, standar internasional dan nasional tentang penggunaan kekuatan oleh penegak hukum," tuntutnya. 

Lebih lanjut ia mengatakan, oknum yang terlibat dalam konflik berdarah tersebut harus diadili dan dihukum berat.

“Adili dan hukum aparat-aparat yang terlibat dalam pengerahan kekuatan berlebihan  terhadap warga di Seruyan hingga memakan korban jiwa dan luka-luka. Terutama aparat yang memberi perintah “bidik di bagian kepalanya” yang jelas diarahkan kepada penduduk sipil," tegasnya. 

Amnesty Internasional Indonesia mendorong pihak-pihak yang juga terlibat konflik agraria untuk mempertimbangkan kembali pendekatan dan solusi yang tidak merugikan warga setempat. Pasalnya, selain di Seruyan, juga muncul konflik-konflik serupa di Pulau Rempang Batam, Nagari Air Bangis, Wadas, dan lain-lain.  

“Pendekatan konstruktif adalah satu-satunya cara untuk mengatasi konflik agraria yang mempengaruhi masyarakat lokal dan petani setempat, termasuk pelibatan bermakna masyarakat lokal yang terdampak perkebunan sawit di Seruyan," pungkas Usman Hamid. 

Untuk diketahui, berdasarkan informasi yang diterima Amnesty Internasional Indonesia dari sejumlah organisasi pendamping warga, dilaporkan satu orang tewas dan dua luka berat diduga akibat terkena luka tembak pada bentrok antara warga Bangkal dan polisi di perusahaan perkebunan sawit, PT. Hamparan Masawit Bangun Persada 1 di Desa Bangkal, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Sabtu, 07 Oktober 2023 lalu. Serta dilaporkan 20 orang warga ditangkap saat kejadian.

Bentrokan itu terjadi menyusul rangkaian aksi protes warga Desa Bangkal yang dilakukan sejak 16 September 2023, yang menutut hak mereka atas kebun plasma dengan perusahaan sawit PT. Hamparan Masawit Bangun Persada 1.  

Aksi warga dilakukan dengan menutup akses jalan masuk perusahaan. Karena tuntutan warga tidak dipenuhi oleh pihak perusahaan maka warga melakukan kegiatan blokade lahan area yang selama ini dituntut untuk diberikan kepada masyarakat.  

Korban yang tewas bernama Gijik, yang diduga terkena tembakan di dada. Sedangkan salah seorang korban luka bernama Taufik Nurahman, diduga terkena tembakan di pinggang dan tengah dalam kondisi kritis. Seorang lagi bernama Ambaryanto menderita luka di tangan dan kaki. 

Sementara 20 orang warga Desa Bangkal yang ditahan dan dibawa ke Markas Polres Kotawaringin Timur diketahui telah dibebaskan, Minggu, 08 Oktober 2023 malam kemarin.