Harga Minyak Melonjak, Menkeu Purbaya Pastikan Indonesia Belum Masuk Fase Krisis

Harga Minyak Melonjak, Menkeu Purbaya Pastikan Indonesia Belum Masuk Fase Krisis
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Dok : Int).

KabarIndonesia.idLonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran krisis energi global. Namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Indonesia masih berada dalam kondisi aman dan belum memasuki fase krisis.

Purbaya menegaskan, indikator ekonomi domestik menunjukkan aktivitas masyarakat tetap berjalan normal, bahkan cenderung meningkat. Hal ini terlihat dari tingginya mobilitas dan konsumsi masyarakat pasca-Lebaran.

“Siapa yang bilang krisis? Anda baru Lebaran kemarin, di mana-mana macet, orang belanja. Artinya daya beli masih ada,” ujarnya di Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Menurutnya, ketahanan fiskal Indonesia melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih cukup kuat untuk menekan dampak terhadap harga energi global. Pemerintah, katanya, mampu menjaga stabilitas harga dalam negeri melalui skema subsidi.

Ketika harga minyak mentah dunia menembus level US$100 per barel akibat terganggunya distribusi di Selat Hormuz , pemerintah tetap dapat mengendalikan harga domestik dengan menyerap sebagian beban tersebut melalui APBN.

“Walaupun globalnya seperti itu, kita masih bisa memitigasi karena diserap di APBN,” jelasnya.

Purbaya menambahkan, secara makroekonomi Indonesia justru berada dalam fase ekspansi. Ia optimistis tren pertumbuhan ini akan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan.

“Kita jauh dari krisis, bahkan resesi saja belum. Kita sedang akselerasi dan akan terus dijaga,” tegasnya.

Di sisi lain, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara mulai mengambil langkah darurat energi. Perdana Menteri Anwar Ibrahim misalnya, mengumumkan penyesuaian kuota BBM bersubsidi di Malaysia akibat penambahan beban subsidi yang tajam.

Pemerintah Malaysia memangkas subsidi program kuota RON95 dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan per kendaraan, guna menjaga ketahanan fiskal di tengah kenaikan harga minyak global.

Sementara itu, Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. telah menetapkan status darurat energi nasional melalui kebijakan resmi, mengingat ketergantungan negaranya terhadap impor minyak.

Krisis energi global dipicu oleh konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang menghambat distribusi minyak dunia.

Penutupan sebagian jalur strategi seperti Selat Hormuz turut memperparah kondisi, mengingat jalur tersebut menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Meski tekanan global meningkat, pemerintah Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi daya beli masyarakat melalui kebijakan fiskal yang adaptif.