News  

DPR Soroti Pengawasan Kapal Wisata Usai Insiden Tenggelam di Labuan Bajo

DPR Soroti Pengawasan Kapal Wisata Usai Insiden Tenggelam di Labuan Bajo
Tim SAR gabungan menemukan serpihan badan wisata KM Putri Sakinah di perairan Pulau Padar, Labuan Bajo (Dok : Ist).

KabarIndonesia.id — Peristiwa tenggelamnya dua kapal wisata di perairan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, kembali mengetuk keras pintu kewaspadaan soal keselamatan transportasi laut, khususnya kapal wisata yang banyak dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, menilai peristiwa tersebut menjadi alarm serius bahwa status laik laut secara administratif tidak selalu sejalan dengan kondisi teknis kapal di lapangan. Menurutnya, kelengkapan dokumen belum tentu menjamin keselamatan penumpang saat kapal beroperasi di wilayah terbuka.

“Insiden ini justru membuka fakta penting bahwa status laik laut secara administratif tidak otomatis menjamin keselamatan di lapangan,” ujar Saadiah dalam keterangannya, dikutip Kamis (1/1/2026).

Ia menegaskan, pengawasan terhadap kapal harus diperkuat melalui kelayakan audit yang benar-benar menyentuh kondisi riil kapal, bukan sebatas pemeriksaan dokumen.

Komisi V DPR, kata dia, memandang perlunya evaluasi menyeluruh terhadap wisata kapal, termasuk yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

“Komisi V mengawasi pengawasan kapal wisata termasuk yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat harus diperkuat melalui kelayakan audit yang substantif, bukan sekedar berdasarkan dokumen,” tegasnya.

Saadiah juga mendorong agar proses sertifikasi kelaiklautan kapal dilengkapi dengan pengujian ketahanan mesin serta sistem keselamatan dalam kondisi nyata, terutama saat menghadapi arus kuat dan gelombang ekstrem.

“Ke depan, kami mendorong agar proses sertifikasi kelaiklautan kapal tidak berhenti pada pemeriksaan formal, namun dilengkapi dengan uji ketahanan mesin dan sistem keselamatan dalam kondisi riil,” ujarnya.

Selain itu, ia menilai peran Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta syahbandar perlu diperkuat sebagai pengawas aktif operasional kapal, bukan hanya sebagai pemberi surat Persetujuan Berlayar (SPB).

“KSOP dan Syahbandar harus lebih proaktif, bukan hanya sebagai pemberi izin pelayaran, tetapi sebagai pengawas aktif operasional kapal,” ujarnya.

Menjelang musim liburan yang sering terjadi dibarengi cuaca ekstrem, Saadiah mengingatkan bahwa mitigasi risiko tidak boleh bersifat reaktif. Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dan pemanfaatan sistem informasi cuaca secara real-time.

“Menghadapi periode liburan yang biasanya dibarengi cuaca ekstrem, saya menilai mitigasi tidak boleh bersifat reaktif,” ungkapnya.

Ia pun memperkenalkan sistem integrasi peringatan cuaca dari BMKG dengan menerbitkan izin pelayaran, sehingga izin dapat dibatalkan secara otomatis apabila terdeteksi potensi cuaca berbahaya.

“Kami mendorong agar SPB terintegrasi langsung dengan sistem peringatan cuaca BMKG, sehingga izin pelayaran dapat dibatalkan secara otomatis apabila terdeteksi anomali cuaca seperti gelombang,” jelas Saadiah.

Tak hanya soal teknis kapal dan cuaca, peningkatan kompetensi kru kapal wisata juga menjadi sorotan. Saadiah menilai pelatihan manajemen krisis dan prosedur keselamatan harus menjadi standar wajib, bukan sekadar formalitas.

“Peningkatan kompetensi kru kapal dan manajemen krisis menjadi suatu keharusan. Pelatihan ulang terkait prosedur keselamatan dan penanganan darurat harus menjadi standar wajib, bukan formalitas,” tegasnya.

Ia mengingatkan, satu kejadian saja dapat berdampak buruk terhadap kepercayaan masyarakat dan citra pariwisata nasional. “Keselamatan harus menjadi pijakan utama, karena satu kecelakaan saja bisa berdampak panjang terhadap kepercayaan publik dan reputasi pariwisata nasional,” pungkas Saadiah.

Sebagai catatan, dalam rentang waktu 26 hingga 29 Desember 2025, dua kapal wisata phinisi, KM Putri Sakinah dan KM Dewi Anjani, melaporkan tenggelamnya di perairan Labuan Bajo.

Diketahui, kecelakaan kapal wisata di perairan Pulau Padar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam. Pelatih Tim B Wanita Los Che, klub LaLiga Valencia, Martin Carreras Fernando, dilaporkan hilang bersama tiga anaknya setelah kapal pinisi KM Putri Sakinah tenggelam pada Jumat malam.

Hingga hari pencarian ketiga, Tim Search and Rescue (SAR) gabungan masih memperluas wilayah penyisiran untuk menemukan empat warga negara asing (WNA) asal Spanyol tersebut. Operasi pencarian dilakukan secara intensif di perairan sekitar Pulau Padar, Kabupaten Manggarai Barat.

“Tim SAR gabungan mulai melakukan penyisiran kembali di perairan Pulau Padar dengan luas area hingga 5.25 mil laut dari lokasi kejadian,” kata Kepala Kantor Basarnas Maumere, Fathur Rahman, dilansir dari Antara, Minggu (28/12/2025).

Pencarian ini merupakan hari ketiga sejak kejadian kapal wisata KM Putri Sakinah terjadi pada Jumat (26/12/2025). Dari total 11 orang di dalam kapal, tujuh korban telah berhasil dievakuasi dalam operasi sebelumnya.

Fathur Rahman menjelaskan, sejumlah alat utama yang dikerahkan dalam operasi pencarian, di antaranya Rigid Inflatable Boat (RIB) Pos SAR Manggarai Barat, Sea Rider KSOP Labuan Bajo, Sea Rider Ditpolairud Polda NTT, Rigid Buoyancy Boats (RBB) Lanal Labuan Bajo, Kapal Polisi Pemburu Cepat (KPC) Ditpolairud Polda NTT, serta kapal KN Grantin KPLP Labuan Bajo.

Selain itu, Basarnas juga mengerahkan kapal KN SAR Puntadewa dari Maumere menuju lokasi kejadian dengan membawa 27 penyelamat dan tenaga pendukung.