Di Tengah Ketegangan Global, Indonesia Perkuat Swasembada Energi dari Sawit hingga Singkong

Di Tengah Ketegangan Global, Indonesia Perkuat Swasembada Energi dari Sawit hingga Singkong
Indonesia Perkuat Benteng Pangan dan Energi dari Sawit hingga Singkong (Dok : Ist).

KabarIndonesia.id — Di tengah memanasnya konflik geopolitik global, termasuk ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Indonesia memperkuat fondasi dalam negeri dengan mempercepat agenda swasembada energi.

Langkah ini dilakukan melalui optimalisasi sumber daya nasional, mulai dari minyak sawit hingga singkong, sebagai penopang ketahanan energi dan ekonomi di tengah ancaman gejolak dunia.

Strategi tersebut tidak hanya bertumpu pada komoditas utama seperti minyak sawit, tetapi juga mulai membuka ruang bagi singkong sebagai bahan baku energi alternatif masa depan.

Dengan basis produksi yang besar dan pasar ekspor yang masih berjalan, Indonesia dinilai memiliki bantalan ekonomi yang relatif kuat dalam menghadapi tekanan global.

Salah satu komoditas yang menjadi tulang punggung strategi ini adalah minyak sawit. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menyebut produksi sawit nasional pada tahun 2025 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Produksi sawit kita. Jadi kita bersyukur tahun 2025 ini ada peningkatan produksi dari CPO itu kira-kira 51 juta ton atau secara total ini secara total produksi kita dengan PKO itu nah 56 juta.” kata Eddy dalam keterangannya, dikutip Jumat (13/3/2026).

Data menunjukkan produksi minyak sawit mentah (CPO) Indonesia sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton , naik sekitar 7,5 persen dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 48,16 juta ton.

Peningkatan ini ditopang kondisi cuaca yang baik serta harga sawit yang relatif tinggi pada tahun sebelumnya, sehingga petani lebih intensif merawat kebun.

Di pasar global, ekspor sawit Indonesia juga masih menunjukkan kinerja positif. Sepanjang tahun 2025, volume ekspor tumbuh 9,5 persen, dari 29,5 juta ton menjadi 32,3 juta ton.

Harga minyak sawit yang masih kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya menjadi salah satu faktor pendorong.

Meski konflik global memicu kenaikan biaya logistik dan asuransi pengiriman hingga sekitar 50 persen, ekspor sawit Indonesia masih terus berjalan.

“Dengan perang ini yang kondisi global seperti ini kita bersyukur sawit masih jalan. Sawit masih mengekspornya masih jalan. Meskipun terjadi kenaikan biaya yang luar biasa. Peningkatan biaya logistik dengan asuransi itu kira-kira 50 persen kenaikannya.” mengungkapkannya

Menurut Eddy, meskipun ada indikasi penurunan permintaan baru akibat melonjaknya ongkos transportasi, kontrak ekspor yang sudah berjalan tetap terisi, termasuk ke negara tujuan utama seperti India dan China.

Di dalam negeri, konsumsi sawit juga terus meningkat, terutama untuk mendukung program biodiesel. Sepanjang tahun 2025, konsumsi domestik sawit mencapai 24,7 juta ton, naik sekitar 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara konsumsi biodiesel sendiri meningkat menjadi 12,7 juta ton , atau tumbuh sekitar 10,9 persen.

Program biodiesel menjadi bagian penting dari strategi Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap energi impor bahan bakar fosil.

Saat implementasi ini berada pada bauran B40, dengan proyeksi peningkatan ke level lebih tinggi seperti B50 dalam jangka panjang. Eddy menegaskan, program peningkatan biodiesel harus dibarengi dengan peningkatan produksi sawit agar keseimbangan pasar tetap terjaga.

“Menteri Pertanian mohon agar kami setuju untuk meningkatkan produktivitas untuk meningkatkan produksi kami karena program pemerintah ini akan swasembada energi utamanya untuk biodiesel. Jalan satu-satunya adalah kita harus meningkatkan produksi.” mengungkapkannya

Selain sawit, pemerintah juga mulai mendorong pemanfaatan komoditas lain sebagai sumber energi alternatif, salah satunya singkong. Komoditas ini diproyeksikan menjadi bahan baku bioetanol untuk memperkuat bauran energi nasional.

Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia, Arifin Lambaga, mengatakan potensi singkong Indonesia sangat besar untuk mendukung ketahanan energi nasional.

“Karena kita sekarang tahu risiko kekurangan energi kita sangat besar karena adanya perang di Timur Tengah itu. Nah karena itu tentu pemerintah menginginkan semua potensi yang bisa memproduksi energi itu dioptimalkan.” pungkas Arifin.

Saat ini produksi singkong nasional mencapai sekitar 14 juta ton per tahun . Dengan peningkatan produktivitas dan dukungan varietas unggul, angka tersebut dinilai masih dapat ditingkatkan secara signifikan.

Menurut Arifin, kebutuhan bioetanol nasional untuk campuran bahan bakar mencapai 1,4 juta kiloliter per tahun . Jika seluruh kebutuhan itu terpenuhi dari singkong, maka dibutuhkan sekitar 10 juta ton singkong segar .

“Konversinya rata-rata untuk satu liter bioetanol membutuhkan antara lima sampai tujuh kilogram singkong segar.” katanya.

Kementerian Pertanian saat ini juga meminta pelaku industri dan petani menyiapkan rencana produksi agar singkong bisa masuk ke dalam ekosistem energi secara lebih terstruktur.

“Kami diminta membuat perencanaan produksi singkong yang kemudian dikonversi menjadi bioetanol.” imbuhnya.

Dengan kekuatan di sektor pangan, energi nabati, dan basis produksi komoditas yang besar, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menghadapi ancaman global.

Saat konflik geopolitik mengganggu rantai pasok energi dan pangan dunia, kekuatan sumber daya domestik menjadi benteng utama untuk menjaga stabilitas nasional.

Oleh karena itu, upaya memperkuat energi swasembada dari sawit hingga singkong tidak lagi sekadar agenda sektoral, melainkan bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk memastikan perekonomian tetap tangguh di tengah tekanan global yang semakin kompleks.