Bencana Sumatra-Aceh Jadi Sorotan Global, Media Asing Kritik Lambannya Penanganan

Sebulan Pascabencana di Sumatra, Korban Meninggal Bertambah Jadi 1.137 Jiwa
Proses evakuasi korban bencana di Kabupaten Agam, Sumatra Barat (Dok : Ist).

KabarIndonesia.id — Derita warga Sumatra-Aceh setelah banjir bandang dan longsor kini menjadi perhatian dunia. Sejumlah media internasional menyoroti skala bencana yang berlangsung sejak akhir November sekaligus menyoroti lambannya penanganan di lapangan.

Salah satu yang menyorot tajam adalah The New York Times. Media asal Amerika Serikat itu menerbitkan artikel khusus yang menggambarkan bagaimana banjir meninggalkan tumpukan kayu gelondongan di wilayah terdampak. Artikel tersebut juga diangkat di akun Instagram resmi mereka.

“Siklon Senyar menghantam wilayah barat laut Indonesia, sebelum bergerak ke Malaysia dan Thailand, mengakibatkan hujan lebat selama berhari-hari yang memicu banjir bandang dan tanah longsor yang telah menyebabkan sedikitnya 800 orang. Sebagian besar korban jiwa berada di Indonesia, di mana ratusan orang masih hilang. Ratusan ribu lainnya telah mengungsi,” tulis NYT.

Sorotan serupa datang dari Agence France-Presse (AFP) . Media Prancis tersebut mengulas bagaimana para pejabat Indonesia berupaya menjangkau masyarakat di wilayah-wilayah terpencil yang dilindungi. Namun, banyak warga yang mengaku kecewa karena bantuan datang terlalu lambat.

“Di Indonesia, para penyuntas mengungkapkan rasa kekecewaan yang semakin besar tentang lambatnya upaya penyelamatan dan pengiriman bantuan, karena kelompok-kelompok kemanusiaan diperingatkan bahwa skala tantangan ini hampir belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan di negara yang tidak pernah mengalami kekurangan bencana alam,” tulis AFP.

AFP juga mengutip data resmi terbaru mengenai korban bencana.

“Di Indonesia, 770 orang dipastikan meninggal dunia, kata Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) pada hari Rabu, merevisi jumlah korban meninggal dari 812 yang diumumkan sebelumnya. Sebanyak 463 orang lainnya juga hilang.”

Media Eropa Deutsche Welle (DW) juga menyoroti sulitnya akses bantuan menuju lokasi terdampak karena kerusakan infrastruktur yang parah.

“Para penyintas banjir dahsyat di Pulau Sumatra, Indonesia, kesulitan mendapatkan bantuan karena banyak jalan hancur atau masih terblokir air dan puing-puing,” tulis DW dalam tayangan video berjudul “Krisis Banjir Indonesia: Status Bencana Tertunda Menarik Kemarahan” .

DW juga menampilkan kondisi di lapangan yang semakin memprihatinkan.

“Kelangkaan makanan, bahan bakar, dan air bersih telah meluas setelah badai topan beruntun yang melanda Asia Tenggara. Antrean panjang telah terbentuk di SPBU, dan laporan penjarahan telah tersebar,” tulisnya.

Selain itu, DW menegaskan kembali peringatan para ilmuwan mengenai kaitan krisis iklim dengan bencana ini.

“Para ahli iklim telah memperingatkan sekali lagi bahwa pemanasan suhu memicu curah hujan yang lebih tinggi,” ujarnya.

Sorotan global ini menambah tekanan bagi pemerintah Indonesia untuk mempercepat upaya penanganan dan memperbaiki koordinasi distribusi bantuan di wilayah terdampak.