Trump Ultimatum Iran soal Program Nuklir: Minta Kesepakatan AS–Iran dalam Satu Bulan

Trump Ultimatum Iran soal Program Nuklir: Minta Kesepakatan AS–Iran dalam Satu Bulan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Dok : Int).

KabarIndonesia.id — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ultimatum kepada Iran terkait program nuklirnya.

Trump menegaskan, negosiasi nuklir AS–Iran harus menghasilkan kesepakatan dalam satu bulan ke depan, atau Teheran akan menghadapi konsekuensi serius.

Pernyataan itu disampaikan Trump di Gedung Putih pada Kamis (12/2/2026), saat ia menyinggung pembicaraan nuklir yang disebut akan memasuki putaran kedua.

Trump ingin jalur diplomasi membuahkan hasil, namun ia juga mengingatkan ada fase lanjutan jika kesepakatan gagal tercapai.

“Kita harus mencapai kesepakatan. Jika tidak, akan ada konsekuensi sangat traumatis. Saya tidak mau itu terjadi, tapi kita harus mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan, seperti dikutip AFP, Jumat (13/2/2026).

“Ini akan menjadi trauma yang sangat besar bagi Iran jika mereka tidak membuat kesepakatan,” ucapnya lagi.

Saat ini, AS dan Iran dilaporkan telah kembali memulai perundingan mengenai program nuklir Teheran, dan pembicaraan tersebut akan berlanjut ke putaran kedua.

Trump pun disebut terus menekan Iran agar segera menyepakati kesepakatan, termasuk dengan menyiagakan armada perang di sekitar Iran serta mempertimbangkan pengerahan armada perang kedua.

Trump juga kembali mengingatkan Teheran mengenai serangan Washington pada Juni 2025 yang disebut menghancurkan situs-situs dan menewaskan ilmuwan nuklir Iran.

Ia menegaskan, Iran akan menghadapi dampak yang lebih berat jika tetap bersikeras.

“Kita lihat apakah kita bisa mencapai kesepakatan dengan mereka. Jika tidak, kita harus melanjutkan ke fase dua. Fase dua akan sangat sulit bagi mereka,” ucapnya.

Pernyataan Trump ini muncul sehari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjunginya di Gedung Putih.

Netanyahu disebut mendorong AS mengambil sikap lebih keras terhadap Iran. Meski begitu, Trump menegaskan ia masih ingin mendahulukan pendekatan diplomatik.