Ramai Tuduhan soal Banjir Sumatra, PT Toba Pulp Beberkan Data Operasional dan Struktur Saham

Ramai Tuduhan soal Banjir Sumatra, PT Toba Pulp Beberkan Data Operasional dan Struktur Saham
Pabrik PT Toba Pulp Lestari Tbk (Dok : Int).

KabarIndonesia.id — Di tengah derasnya tuduhan sebagai biang keladi banjir dan longsor di Sumatra, PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) akhirnya buka suara. Perusahaan pulp tersebut menyatakan aktivitas operasional mereka berjalan sesuai kaidah pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan tidak ada hubungannya dengan bencana yang terjadi.

INRU menyebut seluruh kegiatan hutan tanaman industri (HTI) mereka telah melalui penilaian High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS) oleh lembaga independen.

Dari total luas 167.912 hektare, hanya sekitar 46.000 hektare yang digunakan untuk pengembangan tanaman eucalyptus. Sementara itu, sebagian besar lahan lainnya dipertahankan sebagai kawasan lindung dan konservasi.

Isu yang menyeret nama perusahaan tak berhenti di situ. Toba Pulp Lestari juga dikaitkan dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan. Namun tuduhan tersebut langsung dibantah.

“Sehubungan dengan tersebarnya berbagai informasi yang tersimpan di media sosial maupun ruang publik mengenai tuduhan bahwa Bapak Luhut Binsar Pandjaitan memiliki keterlibatan atau kepemilikan di perusahaan Toba Pulp Lestari (TPL), dengan ini kami menyampaikan klarifikasi resmi. Informasi tersebut tidak benar,” ujar Jodi Mahardi, Juru Bicara Ketua DEN dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (4/12/2025).

Ia menegaskan, Luhut tidak memiliki, tidak terafiliasi, dan tidak terlibat dalam bentuk apa pun, baik langsung maupun tidak langsung, dengan Toba Pulp Lestari. Semua klaim yang beredar disebut keliru dan tidak berdasar.

Jejak Saham dan Pemilik Manfaat Akhir

Toba Pulp Lestari, yang sebelumnya bernama Inti Indorayon Utama, pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia pada 18 Juni 1990. Dalam IPO prospektus, konglomerat Sukanto Tanoto tercatat memegang 27,7% saham Indorayon, sementara Polar Yanto Tanoto menguasai 6,5%.

Keduanya juga masuk jajaran manajemen: Sukanto sebagai komisaris utama dan Yanto sebagai direktur. Dalam dokumen tersebut, Indorayon disebut sebagai bagian dari Raja Garuda Mas, grup yang kini dikenal sebagai Royal Golden Eagle.

Struktur kepemilikan perusahaan kini sudah jauh berubah. Berdasarkan laporan per 31 Oktober 2025, mayoritas saham INRU menguasai Allied Hill Limited yang berbasis di Hong Kong, dengan kepemilikan 92,54% atau 1.285.265.467 saham. Pemilik manfaat akhirnya adalah Joseph Utomo.

Pada awal 2025, saham mayoritas perusahaan masih berada di tangan Pinnacle Company Pte., perusahaan asal Singapura, dengan penerima manfaat akhir yang sama, yaitu Joseph Oetomo.

Sebelumnya, pada November 2022, nama Sim Sze Kuan sempat tercatat sebagai penerima manfaat akhir ketika Pinnacle masih menjadi pemegang mayoritas saham.