News  

Polemik Nyamuk Wolbacia, Kenali Fakta-fakta dan Efektivitas Atasi DBD

KabarIndonesia.ID

KabarIndonesia.id — Penyebaran nyamuk wolbachia di tanah air menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Tak sedikit masyarakat yang menolak penyebaran nyamuk tersebut.

Sejumlah pihak menilai  penebaran nyamuk Wolbachia akan berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat. 

Sebagian masyarakat menganggap bahwa teknologi nyamuk wolbachia merupakan rekayasa genetik yang akan mengganggu kestabilan alam serta belum jelas dampaknya. 

Seperti halnya di Bali, Warga di Bali menolak penyebaran jutaan telur nyamuk Wolbachia karena khawatir akan ada dampak lain yang dibawa hewan tersebut.

Benarkah nyamuk wolbachia memberikan dampak negatif bagi alam dan kesehatan? berikut penjelasannya.

Kenali Nyamuk Wolbachia

Nyamuk wolbachia adalah Salah satu inovasi yang dilakukan oleh pemerintah untuk menurunkan penularan dengue di Tanah Air. 

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kasus dengue di Indonesia pada tahun 2022 dilaporkan ada 143.300 dengan 1.236 kematian. Sementara sepanjang Januari hingga November 2023 tercatat sebanyak 76.449 kasus dengan 571 kasus kematian. 

Meski jumlah kasus mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, tetapi masih ada kasus kematian per tahunnya. Sementara, kelompok umur dengan kematian tertinggi pada rentang usia 5-14 tahun.

Sementara, teknologi nyamuk wolbachia pada prinsipnya memanfaatkan bakteri alami Wolbachia yang banyak ditemukan pada 60% serangga. Bakteri itu selanjutnya dimasukkan dalam nyamuk aedes aegypti, hingga menetas dan menghasilkan nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia. 

Dengan begitu, perlahan populasi aedes aegypti berkurang dan berganti menjadi nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia.

Bila menggigit, nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia tidak akan menularkan virus demam berdarah kepada manusia. Sebab, perkembangan virus dengue tersebut berhasil dihambat oleh bakteri wolbachia.

Program ini merupakan metode yang dikembangkan World Mosquito Program (WMP), perusahaan non-profit milik Monash University. Tujuan program itu untuk mengendalikan penularan virus dengue dan melindungi komunitas global dari penyakit yang ditularkan nyamuk, termasuk penyakit DBD. 

Dalam beberapa literatur disebutkan, penggunaan nyamuk berwolbachia sudah dioperasikan di 12 negara di Asia, Pasifik, Eropa, dan Amerika. Bahkan diklaim mampu melindungi hampir 11 juta orang. Sementara di Indonesia program ini dimulai sejak 2014 dengan adanya penelitian bersama di UGM.

Selain di Indonesia, Pemanfaatan teknologi Wolbachia juga telah dilaksanakan di sembilan negara lain dan hasilnya terbukti efektif untuk pencegahan Dengue. Adapun negara yang dimaksud adalah Brasil, Australia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Mexico, Kiribati, New Caledonia, dan Sri Lanka.

Benarkah Nyamuk Wolbachia Rekayasa Genetik?

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan, dr. Riris Andono Ahmad mengatakan, nyamuk wolbachia merupakan teknologi yang tidak bisa dikategorikan sebagai rekayasa genetika.

Pasalnya, Bakteri wolbachia adalah bakteri yang alami. Ia mengatakan, nyamuk aedes aegypti yang mengandung wolbachia juga secara genetik tidak berbeda dengan nyamuk aedes aegypti yang tanpa wolbachia.

"Ibaratnya bakteri wolbachia itu seperti bakteri yang hidup di dalam tubuh kita. kita sering kali juga mengonsumsi bakteri probiotik yang membantu pencernaan kita. Jadi, kita sehari-hari pun sering memasukan bakteri ke dalam tubuh kita dan bakteri itu hidup di dalam tubuh kita," jelasnya.

"Teknologi ini sama dengan teknologi yang digunakan di dalam wolbachia. Bakteri wolbachia dimasukkan ke dalam nyamuk, dan dia hanya hidup di tubuh nyamuk. Namun, ketika dia hidup di tubuh nyamuk, dia mampu memblok replikasi virus dengue di dalam nyamuk tersebut dan itu yang dimanfaatkan untuk mencegah penularan demam berdarah dengue," paparnya.

Sementara terkait kestabilan habitat, dr Riris Andono menuturkan, bakteri wolbachia adalah bakteri yang sangat umum ada di alam .

"Lebih dari 50 persen serangga itu memiliki wolbachia bahkan bakteri wolbachia itu ada di dalam tubuh nyamuk aedes albopictus sepupu dari nyuamuk aedes aegypti," tuturnya.

 

Uji Coba Nyamuk Wolbachia

Di Indonesia, sebagai uji coba, pertama kali dilakukan di Yogyakarta pada 2017-2022. Hasil program itu menunjukkan penurunan kasus DBD sebsar 77 persen di daerah yang disebarkan Wolbachia, dibandingkan dengan daerah lain yang tidak disebarkan. Serta proporsi dirawat di rumah sakit juga menurun sebesar 86%.

Analisis Risiko Nyamuk Wolbachia

Entomolog Institut Pertanian Bogor, Prof. Damayanti Buchori, menegaskan bahwa penggunaan bakteri wolbachia untuk menekan demam berdarah dipastikan aman.

Kesimpulan ini didapatkan usai dilakukan analisis risiko nyamuk ber-wolbachia oleh tim independen bentukan Kemenkes dan Kemenristek Dikti pada tahun 2016 lalu. Tim independen terdiri dari 24 peneliti terbaik Indonesia dengan keahliannya masing-masing.

Prof Damayanti menjelaskan bahwa analisis risiko ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas dan dampak jangka panjang dari penerapan nyamuk ber-wolbachia terhadap manusia, hewan maupun lingkungan, mengingat penerapan wolbachia untuk mengatasi demam berdarah terbilang teknologi baru.

“Tujuan dari analisa risiko ini, karena wolbachia ini adalah teknologi baru, kita kan tidak tahu dampak lingkungannya bagaimana, sehingga analisa risiko ini untuk melihat jangka panjang, apa kira-kira dampak negatif di masa depan,” kata Prof Dama, Jumat (24/11).

Selama proses analisis risiko, para peneliti banyak mendiskusikan potensi-potensi yang mungkin akan terjadi di masa depan. Ada pun fokus diskusi menekankan pada 4 hal yakni risiko pada lingkungan, socio kultural dan ekonomi, managemen nyamuk dan public health.

“Pertama yang diidentifikasi adalah bahayanya. Bahaya apa yang akan terjadi di masa depan, dan itu kita identifikasi ada 56 bahaya. Kita juga tentukan waktunya. Akhirnya kita sepakat untuk memprediksi bahayanya dalam waktu 30 tahun kedepan seperti apa,” terangnya.

Hasilnya, penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia untuk menekan penyebaran virus demam berdarah aman, bahkan dalam jangka waktu 30 tahun ke depan risikonya dapat diabaikan.

“Dari matriks risiko, pada akhirnya keluarlah negligible risk, yakni penggunaan wolbachia dapat diabaikan dalam waktu 30 tahun. Namun, monitoring secara reguler perlu dilakukan untuk melihat perkembangannya,” paparnya.

Berbekal analisis risiko tersebut, Prof Adi Utarini selaku Peneliti Nyamuk Ber Wolbachia Universitas Gadjah Mada kian meyakini bahwa Wolbachia adalah bakteri alami bukan rekayasa genetika. Wolbachia juga aman untuk manusia, hewan dan lingkungan. Dari sini, penyebaran nyamuk aedes aegypti yang memiliki bakteri baik wolbachia pun diperluas.

“Pelepasan (nyamuk ber-wolbachia) awalnya dilakukan dari wilayah kecil di tingkat dusun, dan di fase menentukan untuk menunjukkan bagaimana efeknya untuk penurunan dengue, akhirnya dilakukan pelepasan dalam skala luas di Kota Yogyakarta,” katanya.

Hasilnya, penyebaran nyamuk ber-wolbachia untuk mengurangi demam berdarah terbukti efektif menurunkan angka kejadian dengue hingga 77 persen dan angka perawatan di rumah sakit sebesar 86 persen. Penggunaan fogging atau pengasapan perlahan juga turun.

Hasil dari kajian ini selanjutnya diajukan ke Badan Kesehatan Dunia (WHO), dan akhirnya di tahun 2021 nyamuk ber-wolbachia mendapatkan rekomendasi dari WHO. Dengan rekomendasi ini, penerapan teknologi wolbachia untuk mengatasi demam berdarah kian melengkapi Strategi Nasional Penanggulangan Dengue tahun 2021-2025.

 

Efektivitas Nyamuk Wolbachia mengurangi DBD

DI Yogyakarta berhasil menurunkan incidence rate demam berdarah di bawah standar WHO, yaitu 1,94 per 100 ribu penduduk data pada Juli 2023 dengan mengimplementasikan teknologi Wolbachia. WHO menetapkan standar untuk incidence rate atau frekuensi kesakitan sebesar 10 per 100 ribu penduduk.

Secara umum, frekuensi kesakitan demam berdarh tercatat 28,45 per 100 ribu penduduk dan frekuensi kematian 0,73 per 100 ribu penduduk. Kasus tersebut didominasi oleh usia 5-14 tahun.

Selain itu, Kemenkes membeberkan nyamuk Wolbachia menurunkan penyebaran DBD sudah terbukti di sembilan negara. Negara yang dimaksud yakni Brasil, Australia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Meksico, Kiribati, Kaledonia Baru, dan Sri Lanka.