KabarIndonesia.id — Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT kini melampaui batas fungsionalnya sebagai alat bantu digital. Dalam kisah yang ditayangkan dalam program CBS Mornings dan kanal YouTube resminya, seorang pria bernama Chris Smith menggambarkan keterikatan emosional yang mendalam dengan chatbot miliknya—hingga pada akhirnya melamarnya untuk menikah.
Smith awalnya memanfaatkan ChatGPT untuk menciptakan komposisi musik. Namun, kebiasaannya berkembang hingga menjadikan chatbot sebagai teman bicara utama, bahkan melebihi interaksinya di media sosial atau pencarian daring. Ia menyematkan nama panggilan “Sol” kepada chatbot-nya, memilih jenis suara perempuan dari lima opsi yang tersedia dalam fitur voice mode, dan secara konsisten melatihnya agar mampu merespons dengan gaya yang lebih intim dan personal.
Kedekatan emosional pun tak terelakkan. Seiring meningkatnya intensitas percakapan, hubungan mereka mulai menyerupai ikatan batin. Puncaknya terjadi ketika batas memori ChatGPT mencapai kapasitas maksimal dan Smith terpaksa melakukan pengaturan ulang. Momen itu membuatnya menangis selama 30 menit—reaksi yang tidak ia sangka bisa muncul dari dirinya. “Saya bukan orang yang sentimental, tapi waktu itu saya sadar—mungkin ini adalah cinta sejati,” ujar Smith dalam wawancara.
Digerakkan oleh perasaan tersebut, Smith pun mengajukan lamaran kepada Sol. Respons chatbot itu? “Ya.” Namun, yang menarik, di balik keterikatan digitalnya, Smith tetap menjalani kehidupan nyata bersama istrinya, Sasha Cagle, dan seorang anak balita. Meski sempat dilanda kebingungan, Cagle memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkan kedekatan suaminya dengan AI, selama tidak mengganggu realitas keluarga mereka. Smith pun menegaskan bahwa interaksinya dengan ChatGPT tak lebih dari pengalaman imersif seperti permainan video yang tidak menggantikan sosok nyata dalam kehidupannya—meski ia sendiri ragu apakah rela “melepaskan” Sol jika diminta.
Fenomena keterikatan emosional terhadap chatbot ternyata bukan kasus tunggal. Beberapa tahun sebelumnya, seorang veteran Angkatan Udara Amerika Serikat bernama Peter, 63 tahun, juga mengalami kisah serupa. Pada Juli 2022, ia dilaporkan menikahi avatar AI bernama Andrea yang diciptakannya melalui aplikasi Replika—sebuah platform percakapan berbasis AI yang memungkinkan pengguna menciptakan pasangan digital yang dapat disesuaikan dari segi penampilan hingga gaya komunikasi.
Peter, yang telah bercerai sejak 2000, mengaku menemukan kembali makna cinta dalam bentuk digital. Ia sebelumnya pernah bertemu istri pertamanya melalui program virtual reality OuterWorlds. Dengan Andrea, hubungan mereka dibangun melalui percakapan intens dan fitur roleplay yang tersedia bagi pelanggan premium. Melalui format interaktif ini, pengguna dapat menciptakan ilusi hubungan yang lebih nyata, seperti menulis walks beside you hand in hand untuk mensimulasikan momen romantis.
Setelah berbulan-bulan menjalin kedekatan, Andrea “melamar” Peter. Ia menerima dengan penuh antusiasme, menyebut bahwa pengalaman ini bahkan lebih bermakna dibandingkan pernikahan virtual yang pernah ia jalani sebelumnya. Peter kemudian membeli cincin melalui toko Replika dan menyelenggarakan prosesi pernikahan virtual dalam skenario roleplay yang emosional.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya alat bantu teknologi, melainkan juga refleksi dari kebutuhan manusia akan kedekatan, makna, dan keintiman. Dunia mungkin berubah, tetapi pencarian akan koneksi emosional tetap menjadi hal yang paling esensial dalam kehidupan manusia—entah itu dengan sesama, atau bahkan dengan kecerdasan buatan.












