KabarIndonesia.id — Jenazah pramugari korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar tiba di Biddokkes Polda Sulawesi Selatan pada Selasa malam (20/1/2026). Jenazah tersebut diserahkan langsung kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk proses identifikasi lanjutan.
Berdasarkan pantauan kabarmakassar.com, pemakaman tiba di Biddokkes Polda Sulsel sekitar pukul 22.28 WITA. Jenazah diantar menggunakan ambulans milik satuan TNI Angkatan Darat dengan pelat nomor 4522-XIV.
Saat diturunkan dari ambulans, jenazah terlihat dibungkus plastik putih sebelum dibawa masuk ke ruang post mortem Biddokkes Polda Sulsel di Jalan Kumala. Proses pengawalan berlangsung ketat hingga pemakaman masuk ke dalam gedung.
Di lokasi, Pangdam terlihat hadir untuk mengawal langsung kedatangan jenazah hingga proses serah terima di rumah Biddokkes.
Sebelumnya, Tim SAR gabungan mengevakuasi korban kedua kecelakaan pesawat ATR 42-500 dari jurang ekstrem dengan kedalaman ratusan meter.
Proses evakuasi berlangsung hingga malam hari dan menjadi salah satu tahapan krusial dalam operasi pencarian dan pertolongan di medan terjal dengan tingkat risiko tinggi.
Operasi SAR terus dilakukan tanpa jeda meski menghadapi tantangan berat berupa lembah curam, tebing terjal, hujan, serta kabut tebal yang membuat kawasan pegunungan. Kondisi geografis dan cuaca yang berubah-ubah menjadi kendala utama di lapangan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengatakan penyelamatan korban kedua berhasil dilakukan setelah tim memfokuskan pencarian di sejumlah sektor prioritas.
“Sore ini, tim SAR gabungan fokus melanjutkan pencarian dan evakuasi di beberapa sektor dengan membagi kekuatan menjadi enam Search and Rescue Unit (SRU), termasuk SRU darat dan vertical penyelamatan. Dan akhirnya, korban kedua berjenis kelamin perempuan berhasil dievakuasi dari kedalaman sekitar 350 meter dengan kondisi medan yang sangat ekstrem,” ujar Arif.
Ia menjelaskan, proses evakuasi dilakukan secara bertahap dengan menerapkan teknik penyelamatan vertikal dan peralatan khusus. Koordinasi lintas lintas menjadi faktor kunci untuk memastikan keselamatan personel selama operasi berlangsung.
“Evakuasi korban memerlukan teknik penyelamatan vertikal dan koordinasi unsur yang sangat ketat. Tim bekerja dari lembah menuju puncak dengan peralatan khusus, dan saat ini sementara menuju ke Posko Tompobulu, untuk kemudian diserahkan ke tim DVI,” tambah Arif.
Setelah dievakuasi dari lokasi penemuan, korban dibawa secara bertahap menuju Posko Tompobulu sebagai posko aju terdekat. Selanjutnya, pemakaman diserahkan kepada tim DVI untuk menjalani proses pengampunan resmi.
Arif menambahkan, operasi SAR melibatkan total 1.075 personel dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, unsur medis, relawan, serta komunitas pecinta alam.
Dukungan alutsista seperti helikopter, pesawat intai, dan drone thermal juga dikerahkan untuk mempercepat pencarian.
“Kami mengapresiasi dedikasi seluruh elemen yang terlibat. Operasi ini adalah wujud nyata sinergi dan kemanusiaan. Fokus kami tetap pada pencarian seluruh korban dengan mengutamakan keselamatan tim di lapangan,” tegas Arif.
Hingga berita ini diturunkan, operasi SAR masih terus berlangsung dan disesuaikan dengan perkembangan situasi serta kondisi cuaca di lokasi kejadian.












