KabarIndonesia.id — Ketua Dewan Energi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, memastikan bahwa proyek strategis nasional Kereta Cepat Jakarta–Surabaya tetap berjalan. Dalam kunjungan kerjanya di Beijing, Kamis (22/5), Luhut menyampaikan bahwa saat ini proyek tersebut hanya terkendala regulasi, bukan komitmen.
“Masalahnya sederhana, kita masih menyusun aturan. Tapi kalau sudah selesai, kita mulai joint study,” ujar Luhut
Proyek ini telah tercantum dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 296 Tahun 2020. Namun, untuk memulai kerja sama teknis dengan pihak Tiongkok, pemerintah Indonesia masih menunggu terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) sebagai dasar hukum pelaksanaannya.
Luhut menegaskan, dirinya telah meminta Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono untuk secara langsung mengawal proses penyusunan Perpres tersebut. “Perpres ini mendesak, karena China menunggu. Kalau sudah oke, joint study akan dimulai, dan pasti lebih baik dari Jakarta-Bandung,” katanya optimis.
Luhut juga tidak menutup mata terhadap kekurangan pada proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh, yang telah lebih dulu beroperasi. Ia mengakui adanya sejumlah kekeliruan dalam pelaksanaan proyek tersebut. “Bukan soal menyalahkan siapa, tapi kita harus belajar dari pengalaman. Saya pun dulu terlibat,” ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan pihaknya masih mempelajari secara komprehensif proyek besar ini. AHY menekankan pentingnya perhitungan matang agar keputusan yang diambil tidak membebani keuangan negara.
Hal senada disampaikan oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, yang menegaskan bahwa proyek kereta cepat Jakarta–Surabaya tidak boleh membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah tengah mengkaji berbagai alternatif moda berbasis rel, termasuk kereta kecepatan menengah (middle-speed train), sebagai opsi selain kereta cepat berkecepatan tinggi (high-speed train).
Keputusan akhir akan didasarkan pada hasil studi kelayakan, proyeksi daya serap pasar, dan skema investasi yang paling rasional. Studi ini dilakukan secara paralel dengan penyusunan prastudi kelayakan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang ditunjuk sebagai pihak pelaksana awal.
Adapun jalur perpanjangan yang tengah dipertimbangkan mencakup tiga rute strategis, yaitu lintas selatan melalui Bandung–Kroya–Yogyakarta hingga Surabaya sepanjang 629,5 km, lintas tengah, serta lintas utara. Jalur selatan diproyeksikan menempuh waktu hanya 180 menit dengan 13 stasiun pemberhentian.
Jika rampung, proyek ini akan memangkas waktu tempuh Jakarta–Surabaya dari 10 jam menjadi sekitar 3,5 jam via darat, dengan tarif yang ditargetkan lebih terjangkau dibandingkan Whoosh. Pemerintah berharap proyek ini menjadi transformasi sistemik terhadap infrastruktur transportasi nasional, sekaligus simbol efisiensi lintas wilayah di Pulau Jawa.












