KabarIndonesia.id — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) meluncurkan Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek). Program ini diinisiasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi sebagai kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha dan industri, serta masyarakat dalam membangun ekosistem inovasi nasional yang partisipatif dan berdampak langsung.
Program Bestari Saintek menjadi bagian dari payung besar Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Sains Teknologi Nusantara (Semesta), yang berlandaskan lima pilar utama: kolaborasi multipihak, berbasis masalah nyata, co-creation, iterasi berkelanjutan, dan dampak ekonomi terukur.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap hasil riset tidak berhenti di jurnal, tetapi hadir dalam bentuk inovasi yang bisa dipegang, digunakan, dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Dengan kesabaran dan ketekunan, kekuatan akademik akan melahirkan champion masa depan,” ujar Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto.
Menurut Brian, Indonesia tengah menghadapi paradoks inovasi. Produktivitas riset nasional meningkat, begitu pula posisi Indonesia dalam Global Innovation Index, namun dampak nyata riset di masyarakat masih terbatas. Di sisi lain, kepercayaan publik terhadap ilmuwan Indonesia justru sangat tinggi, yakni 3,84 dari skala 5 menurut Nature Human Behaviour (2025), melampaui rata-rata global.
“Kepercayaan publik ini adalah modal sosial besar untuk memperkuat hubungan antara sains dan masyarakat. Bestari Saintek hadir untuk menjembatani kepercayaan itu menjadi kolaborasi nyata,” tambahnya.
Peluncuran dan sosialisasi Bestari Saintek turut dihadiri oleh pimpinan perguruan tinggi, pelaku industri, UMKM, serta kelompok masyarakat. Melalui konsep living lab atau “laboratorium hidup”, semua pihak memiliki peran sejajar dalam mengembangkan solusi inovatif yang relevan secara akademik, layak secara bisnis, dan diterima masyarakat. Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga mitra aktif dalam setiap tahap penerapan teknologi.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi diharapkan menjadi motor penggerak pengetahuan, industri berperan memperkuat rantai pasok dan pasar, pemerintah daerah mendukung kebijakan lokal, dan masyarakat menjadi pengguna serta sumber inspirasi.
“Inovasi yang dihasilkan diharapkan benar-benar tepat guna dan berdampak ekonomi langsung mulai dari peningkatan mutu produk lokal hingga efisiensi rantai pasok dan perluasan akses pasar,” ujarnya.
Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto, menambahkan bahwa LPDP telah mengalokasikan dana sebesar Rp57,5 miliar untuk mendukung program Bestari Saintek. “Kami memberikan dukungan nyata terhadap penguatan ekosistem riset nasional. Melalui pendanaan ini, diharapkan muncul kolaborasi dan inovasi baru di berbagai bidang sains dan teknologi,” kata Ayom.
Sementara itu, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Yudi Darma, menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah konkret untuk membawa hasil riset keluar dari laboratorium dan menjadikannya solusi nyata bagi masyarakat.
“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan bergandeng tangan menjadikan Bestari Saintek sebagai ruang kolaborasi bersama, wadah bagi ide-ide lintas disiplin yang bermuara pada tujuan besar: mewujudkan ekosistem sains dan teknologi yang hidup, inklusif, dan menyejahterakan bangsa,” tutup Yudi.












