Indonesia Siapkan Pembelian Energi dari Amerika Serikat Senilai USD 15,5 Miliar

Istimewa - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan kepada awak media di Jakarta

KabarIndonesia.id — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa Indonesia merancang pembelian energi dari Amerika Serikat dengan nilai total mencapai 15,5 miliar dolar AS.

“Siang ini kami baru saja membahas langkah Indonesia terkait penawaran kepada Amerika Serikat soal tarif. Tadi disepakati rencana pembelian energi yang nilainya dapat menembus 15,5 miliar dolar AS,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

Ia melanjutkan, pembahasan juga mencakup rencana pembelian produk agrikultur serta investasi strategis yang akan melibatkan BUMN dan entitas seperti Danantara.

“Rencananya akan ditindaklanjuti dengan penandatanganan perjanjian atau memorandum of understanding bersama mitra di Amerika Serikat pada 7 Juli mendatang,” ungkapnya.

Kolaborasi ini, kata Airlangga, memperlihatkan sinergi pemerintah, pelaku usaha, BUMN, dan pihak swasta untuk merespons kebijakan tarif resiprokal.

Arahan Presiden, sambung Airlangga, menekankan bahwa komitmen pembelian produk Amerika ini bersifat jangka panjang, bukan hanya langkah sesaat.

“Defisit perdagangan Amerika Serikat terhadap Indonesia mencapai 19 miliar dolar AS. Namun, nilai pembelian yang kita tawarkan justru melampaui angka itu, yakni sekitar 34 miliar dolar AS. Inilah esensi rapat koordinasi hari ini bersama kementerian dan pelaku usaha,” jelasnya.

Sebagai catatan, Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan peningkatan impor komoditas energi dari Amerika Serikat guna menyeimbangkan neraca dagang kedua negara.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa meskipun versi Badan Pusat Statistik (BPS) RI mencatat surplus neraca dagang Indonesia sekitar 14,5 miliar dolar AS, catatan pihak Amerika Serikat justru lebih besar.

Sebagai langkah strategis, pemerintah akan mengimpor langsung LPG, minyak mentah, dan BBM dari Amerika Serikat dengan nilai lebih dari 10 miliar dolar AS.

Rencana tersebut meliputi peningkatan porsi impor LPG dari AS dari semula 54 persen menjadi 65–80 persen. Sementara itu, impor crude oil yang saat ini masih di bawah 4 persen akan dinaikkan menjadi di atas 40 persen.