Air Laut Naik hingga 1,8 Meter, NASA Soroti Risiko Tenggelamnya Jakarta

Air Laut Naik hingga 1,8 Meter, NASA Soroti Risiko Tenggelamnya Jakarta
Ilustrasi pesisir Utara Jakarta (Dok: Int).

KabarIndonesia.id — Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperingatkan kenaikan permukaan air laut global yang diperkirakan mencapai 3–6 kaki atau sekitar 0,9 hingga 1,8 meter pada akhir abad ini, sebuah kondisi yang berpotensi menenggelamkan wilayah pesisir di berbagai belahan dunia, termasuk Jakarta.

Kenaikan permukaan air laut tersebut dipicu oleh mencairnya kawasan kutub akibat pemanasan global, yang berdampak langsung pada peningkatan volume air laut. Ratusan juta penduduk dunia diproyeksikan kehilangan tempat tinggal, terutama mereka yang bermukim di daerah pesisir dan dataran rendah.

Dalam laporan yang dikutip dari laman Sciencing, Jakarta disebut sebagai salah satu kota dengan risiko tertinggi di dunia.

“Jakarta diketahui merupakan salah satu kota yang paling cepat tenggelam di dunia,” tulis laman Sciencing, Kamis (1/1/2026).

Kerentanan ibu kota tidak terjadi secara tiba-tiba. Fenomena banjir yang semakin sering melanda Jabodetabek dan wilayah Jawa, termasuk banjir besar pada awal Maret 2025, disebut sebagai sinyal awal krisis yang lebih besar. Bahkan, Kota Bekasi mencatat banjir terparah yang melebihi kejadian serupa pada tahun 2016 dan 2020.

Laporan tersebut mencatat, permukaan udara di Jakarta meningkat sekitar 17 sentimeter per tahun. Kondisi geografis Jakarta yang berada di dataran rendah bekas rawa, dilintasi 13 sungai, serta berbatasan langsung dengan Laut Jawa, menjadikan kota ini sangat rentan terhadap dampak kenaikan air laut.

Sejarah mencatat, banjir besar pada tahun 2007 merenggut sedikitnya 80 jiwa korban dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga ratusan juta dolar AS. Ancaman berulang inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan utama pemerintah memutuskan memindahkan ibu kota negara ke Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Ibu kota baru yang bernama IKN diprediksi akan rampung sepenuhnya pada tahun 2045. Pada saat itu, IKN kemungkinan besar akan menjadi pengungsi dari Jakarta yang tenggelam,” tulis Sciencing.

Tak hanya Jakarta, sejumlah kota besar di dunia juga masuk dalam daftar wilayah paling terancam tenggelam akibat perubahan iklim.

Di antaranya Alexandria di Mesir yang berpotensi kehilangan 30 persen wilayahnya pada tahun 2050, Miami di Amerika Serikat yang sebagian besar wilayahnya hanya enam kaki di atas permukaan laut, hingga Bangkok di Thailand yang garis pantainya terus menyusut setiap tahun.

Ilmuwan mengatakan, meskipun kenaikan air laut berlangsung secara bertahap, dampaknya bersifat permanen. Tanpa upaya serius untuk menekan emisi karbon dan menghentikan kerusakan lingkungan, kota-kota pesisir dunia terancam mengalami krisis kemanusiaan besar.

Bagi Indonesia, Jakarta bukan satu-satunya wilayah yang harus diwaspadai. Sejumlah wilayah pesisir lain seperti Semarang, Surabaya, hingga wilayah utara Papua juga menghadapi risiko serupa.

Langkah-langkah adaptasi seperti penguatan tanggul, pemulihan mangrove, serta pengelolaan tata air yang berkelanjutan dinilai mendesak agar ancaman tenggelamnya wilayah pesisir tidak menjadi kenyataan pahit di masa depan.