Utang Rp700 Miliar ke Negara, Berapa Harta Kekayaan Tutut Soeharto?

tutut soeharto

KabarIndonesia.id — Nama Siti Hardijanti Rukmana, atau lebih dikenal sebagai Tutut Soeharto, kembali menjadi sorotan setelah melayangkan gugatan terhadap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta.

Perkara tersebut tercatat dengan nomor registrasi 308/G/2025/PTUN.JKT pada 12 September 2025. Gugatan diajukan menyusul terbitnya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 266/MK/KN/2025 tertanggal 17 Juli 2025, yang menetapkan pencegahan Tutut bepergian ke luar negeri dalam rangka pengurusan piutang negara.

Berdasarkan catatan Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP), Menteri Keuangan menempatkan Tutut sebagai penanggung utang tiga perusahaan, yakni PT Citra Mataram Satriamarga, PT Marga Nurindo Bhakti, dan PT Citra Bhakti Margatama Persada. Ketiga entitas tersebut dituding memiliki kewajiban negara terkait kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dengan nilai mencapai sekitar Rp700 miliar.
“Berdasarkan klaim Tergugat yang menyatakan Penggugat memiliki utang negara, maka diterbitkanlah objek gugatan,” demikian tertulis dalam dokumen SIPP, Kamis (18/9/2025).

Akibat keputusan itu, Tutut dikenakan pencekalan dan kehilangan hak untuk bepergian ke luar negeri. Ia menilai langkah tersebut tidak hanya merugikan, tetapi juga melanggar kepentingan hukumnya, sebab menurutnya tuduhan utang itu tidak beralasan.

Meski dihadapkan pada kewajiban finansial, Tutut tercatat sebagai salah satu tokoh dengan kekayaan berlimpah. Majalah Globe Asia edisi 2018 menempatkannya dalam daftar 150 orang terkaya Indonesia, dengan estimasi kekayaan sekitar USD 205 juta atau setara Rp2,9 triliun. Dengan jumlah tersebut, ia menduduki peringkat ke-130, berada di bawah adiknya Bambang Trihatmodjo (USD 250 juta) dan jauh tertinggal dari Tommy Soeharto yang kala itu dilaporkan memiliki harta USD 670 juta.

Sumber kekayaan Tutut sebagian besar berasal dari Citra Lamtoro Gung Persada, perusahaan keluarga yang bergerak di sektor investasi, konstruksi, hingga pengelolaan jalan tol. Pada masa Orde Baru, konglomerasi ini menggarap beragam proyek besar, khususnya di bidang infrastruktur dan perdagangan.

Dengan estimasi kekayaan yang masih menembus Rp2,9 triliun, Tutut tetap masuk jajaran elite bisnis Tanah Air. Namun, kewajiban utang senilai Rp700 miliar yang dikaitkan dengan kasus BLBI membuat aset dan reputasinya kembali menjadi pusat perhatian publik.