The Fed Turunkan Suku Bunga, Bagaimana Efeknya ke Perbankan Indonesia?

Ilustrasi Suku Bunga Bank

KabarIndonesia.id — Kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia (BI) dan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pada 2025 bergerak ke arah berbeda. Sepanjang tahun ini, BI mengambil langkah pelonggaran agresif dengan memangkas suku bunga acuan sebesar 125 basis poin menjadi 4,75%. Kebijakan ini diarahkan untuk mendongkrak pertumbuhan kredit di dalam negeri.

Sebaliknya, The Fed baru saja menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 4–4,25 persen. Langkah tersebut menjadi yang pertama sejak Presiden Donald Trump memasuki masa jabatan keduanya. Namun, Gubernur The Fed Jerome Powell menegaskan, arah kebijakan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh keputusan-keputusan politik ekonomi dari Gedung Putih.

Jika menilik siklus pelonggaran The Fed sejak 2019, pola historis menunjukkan bank-bank Indonesia kerap mencatat kinerja di bawah rata-rata ketika peristiwa itu terjadi. Pasca pemangkasan suku bunga, saham perbankan besar biasanya terkoreksi sekitar 3% dalam tiga hari, dan koreksi bisa melebar hingga 6–10% dalam rentang 7 sampai 90 hari. Penurunan harga ini kerap beriringan dengan revisi turun proyeksi laba (earnings downgrade), sebagaimana terlihat pada 2019 akibat likuiditas ketat, 2020 saat pandemi COVID-19, dan 2024 ketika tekanan baru kembali muncul.

Dalam kondisi demikian, bank-bank BUMN cenderung tampil kurang tangguh dibandingkan bank swasta. BCA berulang kali terbukti paling tahan banting, sementara bank-bank lebih kecil menunjukkan performa yang bervariasi. Saham BTN tercatat paling dalam terkoreksi, sedangkan BTPS menunjukkan ketahanan relatif baik. Di sisi lain, kinerja Bank Jago (ARTO) bergerak fluktuatif, sangat dipengaruhi dinamika siklus ekonomi.

Pada perdagangan Kamis (18/9/2025), IHSG dibuka positif dan bertahan di level 8.039. Pergerakan aliran modal asing dalam lima tahun terakhir memperlihatkan tren masuk menjelang pemangkasan suku bunga The Fed, tetapi diikuti arus keluar konsisten tepat pada hari keputusan diumumkan. Fenomena ini mengindikasikan bahwa rotasi global lebih dominan memengaruhi aliran dana ketimbang efek langsung kebijakan suku bunga.

Dari sisi valuasi, rasio Price-to-Book Value (PBV) mencatat kenaikan pada 2019, terpuruk pada 2020, sempat pulih, lalu kembali turun pasca pemangkasan 2024 hingga menyentuh 2,3 kali. Secara garis besar, pemotongan suku bunga The Fed hanya menimbulkan efek jangka pendek pada sektor perbankan Indonesia.

Pada akhirnya, kinerja dan valuasi bank semakin bergantung pada fundamental masing-masing institusi, bukan semata pada arah kebijakan moneter global.