KabarIndonesia.id — Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) memperingatkan potensi krisis pangan global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman gangguan rantai pasok dunia. Namun di tengah situasi tersebut, Indonesia justru dinilai berada pada posisi yang semakin kuat dengan cadangan pangan melimpah dan peluangnya menjadi pemasok pangan dunia.
Peringatan itu disampaikan Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, dalam podcast FAO pada 18 Mei 2026. Ia menyoroti potensi penutupan Selat Hormuz yang dinilai bisa memicu guncangan besar terhadap sektor pangan dan pertanian global.
“Saatnya telah tiba untuk mulai berpikir serius tentang bagaimana meningkatkan kapasitas pangan negara-negara, bagaimana meningkatkan ketahanan mereka terhadap tantangan ini,” ujar Maximo Torero dalam keterangannya, dikutip Sabtu (23/5/2026).
Di tengah kekhawatiran global tersebut, pemerintah Indonesia memastikan kondisi pangan nasional tetap aman. Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menegaskan Indonesia telah mengantisipasi berbagai ancaman global melalui penguatan produksi dan cadangan pangan nasional.
“Pangan kita siap menghadapi berbagai kondisi terburuk, mulai dari El Nino, La Nina, hingga dinamika geopolitik global. Pertanian kita insya Allah tetap aman,” tegas Mentan Amran.
Produksi Beras di Atas Konsumsi
Amran menjelaskan produksi beras nasional saat ini berada di atas kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia setiap bulan. Kondisi tersebut membuat pemerintah optimistis menghadapi ancaman krisis pangan dunia.
“Produksi beras kita berkisar antara 2,6 sampai 5,7 juta ton per bulan, sementara kebutuhan nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya produksi kita berada di atas konsumsi. Jadi pangan aman, tidak masyarakat perlu risau,” ujar Mentan Amran di Kementerian Pertanian, Jakarta.
Menurutnya, pengalaman masa lalu menjadi pelajaran penting bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga stabilitas perekonomian nasional.
“Jika kebutuhan dalam negeri aman dan stok kuat, Indonesia harus berani mengambil peran yang lebih besar. Kita tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga harus siap membantu negara sahabat yang membutuhkan,” ujar Mentan Amran.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono , menyebut penguatan stok pangan menjadi modal besar Indonesia menghadapi dinamika global.
Dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI pada 19 Mei 2026, Sudaryono mengungkapkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Bulog hingga 18 Mei 2026 telah mencapai sekitar 5,37 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia modern.
“Stok kita melimpah, sudah 5,3 juta ton. Potensi produksi dan serapan ke depan juga masih sangat besar,” ujar Wamentan Sudaryono.
Indonesia Mulai Perluas Pasar Ekspor
Cadangan pangan yang kuat membuat Indonesia mulai memperluas kerja sama pangan internasional secara terukur. Pemerintah sebelumnya telah mengirimkan beras premium sebanyak 2.280 ton senilai Rp38 miliar ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan sekitar 215 ribu jemaah haji Indonesia.
Selain itu, Indonesia juga telah menyalurkan bantuan 10 ribu ton beras ke Palestina sebagai bentuk solidaritas terhadap krisis kemanusiaan.
“Kita sudah kirim 10 ribu ton beras ke Palestina, ke Arab Saudi sekitar 2.000 ton. Ke depan, kita berharap bukan hanya jemaah Indonesia saat haji dan umrah yang mengonsumsi beras RI, tapi juga jemaah negara lain,” ujarnya.
Meski peluang ekspor semakin terbuka, pemerintah memastikan kebutuhan pangan domestik tetap menjadi prioritas utama.
“Semua ekspor diperhitungkan dengan cermat. Jangan sampai kebutuhan dalam negeri justru terganggu,” tegasnya.
Berbeda dengan Krisis 1998
Ketahanan pangan Indonesia saat ini dinilai jauh lebih kuat dibandingkan masa krisis ekonomi 1997–1998. Saat itu, stok beras nasional hanya sekitar 893 ribu ton dan pemerintah harus melakukan impor besar di tengah pelemahan rupiah.
Kini, situasi berubah signifikan. Produksi beras nasional tahun 2025 tercatat mencapai sekitar 34,69 juta ton atau surplus lebih dari 3,5 juta ton dibandingkan kebutuhan nasional sekitar 31 juta ton. Indonesia juga tidak melakukan impor beras medium sepanjang tahun 2025.
Cadangan beras pemerintah yang kini menembus lebih dari 5,3 juta ton meningkat sekitar 493 persen dibandingkan masa krisis. Berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, sebanyak 8 dari 11 strategi komoditas diperkirakan tidak memerlukan impor, termasuk beras, jagung, bawang merah, cabai, gula konsumsi, hingga daging ayam ras.
Penguatan sektor pangan juga ditopang reformasi pupuk dan energi nasional. Pemerintah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) subsidi pupuk hingga 20 persen sejak Oktober 2025 melalui efisiensi distribusi tanpa tambahan beban APBN.
Di sektor energi, pemerintah juga mulai menerapkan mandatori Biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 yang diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun.
Di tengah ancaman krisis pangan global, Indonesia kini tidak hanya fokus menjaga kebutuhan domestik, tetapi juga mulai memperkuat posisinya sebagai salah satu pemasok pangan dunia dengan sistem pangan nasional yang semakin tangguh dan berkelanjutan.












