KabarIndonesia.id — PT Kabar Grup Indonesia (KGI) kembali akan menggelar Festival Aksara Lontaraq sebagai pesta pelestarian budaya tahunan Sulawesi Selatan.
Untuk tahun ini, Festival Aksara Lontaraq yang memasuki gelaran ke-VII bakal berlangsung lebih menarik dari edisi sebelumnya.
Salah satu konten yang akan dimuat dalam Festival Aksara Lontaraq (FALAQ) VII yakni penelusuran jejak sejarah Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari.
Syekh Yusuf sendiri, merupakan ulama besar dan telah menyandang gelar pahlawan nasional Indonesia.
Peran Syekh Yusut terbilang vital dalam bidang budaya hingga keagamaan di Makassar maupun beberapa wilayah di Tanah Air.
Bukan cuma Makassar serta wilayah Sulawesi, Syekh Yusuf yang hidup selama tahun 1629 hingga 1699, memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam hingga Pulau Jawa, salah satunya di wilayah Banten.
Syekh Yusuf tercatat pernah menjadi mufti Banten di bawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa. Syekh Yusuf juga berperan strategis sebagai pemimipin perjuangan bersenjata untuk melawan penjajahan Belanda dan VOC.
Sempat tertangkap oleh pihak Belanda, Syekh Yusuf harus rela mengalami pengasingan hingga luar Indonesia, mulai dari Sri Lanka lalu ke Afrika Selatan.
Pengasingan tersebut justru membuat Syekh Yusuf memiliki pengaruh lebih luas dalam dakwah Islam. Syekh Yusuf semakin dikenal sebagai ulama sufi hingga penulis.
Hal ini menjadikan kisahnya melegenda dari Makassar sampai berbagai belahan dunia.
Melihat besarnya pengaruh tersebut, KGI berinisiatif menelusuri jejak Syekh Yusuf dengan berkolaborasi bersama Kementerian Kebudayaan RI.
Rencananya, jejak ulama tersebut bakal dituangkan dalam beberapa karya mulai dari film dokumenter, seni visual di museum digital, serta seminar edukasi. Penelusuran juga akan dilakukan lewat cara ekspedisi.
Menariknya, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) juga memiliki rencana untuk membangun rumah budaya di Cape Town, Afrika Selatan.
“Rumah budaya atau museum di Cape Town, sudah diukur di sana oleh Pak Menteri. Itu yang juga disampaikan kepada anggota DPR supaya diperhitungkan secara matang. Mudah-mudahan kegiatan (FALAQ VII dan konten terkait Syekh Yusuf) bisa masuk di sana. Kami berharap Pak Menteri bisa sinergikan upaya ini,” ujar Andi Syamsu Rijal, Direktur Pengembangan Budaya Digital Kemenbud saat ditemui di Kantor Kemenbud, Jakarta belum lama ini.
Menurut Rijal, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon juga sangat tertarik dengan kisah Syekh Yusuf yang sarat makna historis dan edukasi.
Selain itu ia memandang, Syekh Yusuf juga perlu ditampilkan bukan hanya dari sisi kedaerahan tokoh Makassar atau Banten saja. Mengingat luasnya peran beliau sebagai pejuang sampai filsuf.
“Menurut saya beliau harus ditampilkan juga dari sisi pengakuan dunia atas pengaruhnya yang luas di mancanegara,” jelas Rijal.
Lebih lanjut, pertemuan pihak Kemenbud dengan KGI yang diwakili Upi Asmaradhana selaku CEO KGI, serta Uslimin Usle sebagai Pemimpin Redaksi Kabar Makassar menghasilkan respon positif.
Kemenbud turut mengapresiasi inisiatif kolaborasi dengan KGI dalam hal pelestarian dan festival kebudayaan tersebut.
“Langkah ini perlu juga bagi kami untuk melibatkan teman-teman BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), BPK (Balai Pelestarian Kebudayaan) di Makassar untuk sisi legalisasi cagar atau rumah budaya,” sebut Rijal.
“Kemudian teman-teman arkeologi di Unhas (Universitas Hasanuddin) sampai keturunan Syekh Yusuf juga mesti terlibat. Ini perlu kami diskusikan lebih matang lagi, apalagi sudah ada buku dan film yang bisa menjadi rujukan atau referensi,” tambahnya melanjutkan.
Rencananya, progres penelusuran sejarah Syekh Yusuf dalam Festival Aksara Lontaraq VII akan dilaksanakan mulai Agustus hingga September tahun ini.
Sebagai informasi, FALAQ edisi sebelumnya yang dihelat 23-25 November 2025 berisi berbagai kegiatan menarik.
Kegiatan utama FALAQ tahun lalu, terdiri dari workshop budaya dan kelas inkubasi media, workshop integrasi budaya dan teknologi, pameran naskah kuno, tari kolosal dan instalasi taman cahaya, hingga beragam lomba untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal.
Lombanya antara lain story telling cerita rakyat, permainan rakyat, lomba kuliner, lomba lagu daerah temu karya komposer, fashion show adat daerah, pemilihan duta lontara, sampai pagelaran seni.















