KabarIndonesia.id — Sebanyak 31 bayi yang lahir prematur dievakuasi dari rumah sakit Al-Shifa Gaza Utara ke Rumah Sakit Al-Helal Al-Emarati di Rafah, Gaza selatan, Minggu, (19/11) lalu.
Mengutip dari laman UNICEF, diketahui proses evakuasi bayi prematur tersebut dilakukan kerjasama antara pihak UNICEF, WHO, UNRWA, OCHA, UNMAS, sebagai bagian dari upaya antarlembaga PBB, bersama dengan Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina, otoritas medis dan staf di rumah sakit dalam kondisi yang sangat berbahaya.
UNICEF menyebutkan, proses evakuasi dilakukan menindaklanjuti kondisi terkini dan hancurnya seluruh layanan medis di AL-Shifa.
"Saat ini, 31 bayi yang masih hidup diselamatkan dari rumah sakit Al-Shifa di Gaza utara dan dipindahkan ke selatan Jalur Gaza," terang UNICEF.
"Kondisi bayi baru lahir memburuk dengan cepat, menyusul kematian tragis beberapa bayi lainnya, dan hancurnya seluruh layanan medis di Al-Shifa," tulis UNICEF.
UNICEF menyebutkan, pemindahan bayi prematur tersebut dibawah pengawasan staf medis, dan saat ini kondisi ke-31 bayi berangsur stabil.
"Pada proses evakuasi bayi dari Rumah Sakit Al-Shifa ke Rumah Sakit Al-Helal Al-Emarati di Rafah, Gaza Selatan tersebut, atas permintaan otoritas kesehatan, bayi dimasukkan ke dalam inkubator dengan suhu terkontrol di bawah pengawasan staf medis. Di mana kondisi mereka sekarang sudah stabil, dan saat ini mereka dirawat di unit perawatan intensif neonatal," terang UNICEF.
UNICEF dan mitranya mendukung identifikasi dan registrasi bayi-bayi tersebut untuk membantu melacak dan menyatukan kembali mereka dengan orang tua dan anggota keluarga mereka jika memungkinkan.
Untuk diketahui, sejak dimulainya eskalasi, UNICEF telah menyediakan pasokan medis dan perlengkapan bayi ke rumah sakit di wilayah selatan dan tengah Jalur Gaza, untuk mendukung sekitar 244.000 orang, termasuk bayi baru lahir di unit perawatan intensif neonatal lainnya.
Selain itu, lima rumah sakit telah menerima pasokan air melalui truk untuk menyediakan minimal 3 liter per orang per hari untuk sekitar 50.000 orang.
Tak hanya itu, UNICEF kembali menyuarakan perlindungan fasilitas kesehatan, tenaga medis, pasien hingga masyarakat sipil dari serangan dan tindak kekerasan. UNICEF meminta genjatan senjata segera dilakukan.
"Rumah sakit, fasilitas kesehatan, dan personel harus dilindungi dari serangan. Semua tindakan harus diambil untuk menyelamatkan pasien, petugas kesehatan, dan warga sipil dari kekerasan. UNICEF terus menyerukan gencatan senjata kemanusiaan segera dan memastikan bahan bakar dan pasokan medis yang dapat menyelamatkan nyawa dapat menjangkau fasilitas medis di mana pun mereka berada," sebut UNICEF.
Sebelumnya, otoritas kesehatan di Gaza menyebut, tidak ada persediaan makanan atau air yang masuk ke kompleks Al-Shifa selama delapan hari. Mereka membenarkan kematian 51 pasien, termasuk empat bayi prematur, selama periode tersebut.






