• Kabar Jawa
  • Kabar Kalimantan
  • Kabar Makassar
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Sumatera
  • Kabar Sunda
KabarIndonesia.id
  • Home
  • AI
    • Bisnis dan Ekosistem
    • Edukasi dan Masa Depan
    • Regulasi dan Etika
    • Industri dan Terapan
    • Inovasi dan Tren
  • Nasional
  • Daerah
    • Jawa Bali
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Nusa Tenggara
    • Papua
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Pajak
    • Syariah
  • Politik
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Film dan Musik
    • Otomotif
    • Teknologi
  • Lainnya
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Cek Fakta
    • Video
    • Indeks
No Result
View All Result
Kabar Indonesia
No Result
View All Result
  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

AI Tak Bisa Gantikan Ulama dan Tradisi Talaqqi, Ini Penjelasan Kemenag

by Gusti Ridani
26 Juni 2026
Home Kabar AI
Share ke FBShare ke XShare di WA

KABARINDONESIA.ID — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat dinilai tidak akan mampu menggantikan peran manusia dalam membentuk karakter, adab, serta menjaga tradisi keilmuan Islam.

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Muchlis M Hanafi menyebut, meski mampu menyajikan informasi dalam hitungan detik, AI disebut tetap tidak memiliki sanad keilmuan, pengalaman spiritual, maupun tanggung jawab moral sebagaimana dimiliki seorang guru dan ulama.

Menurut Muchlis, teknologi AI memang membawa kemudahan dalam mengakses berbagai referensi keislaman, mulai dari ayat Alquran, hadis, kitab tafsir, hingga pendapat ulama.

“AI dapat membantu menemukan ayat, hadis, kitab tafsir, atau pendapat ulama dalam hitungan detik,” ujar Muchlis saat menyampaikan Orasi Ilmiah pada Wisuda Santri Akhirussanah XIX Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah di Gedung SC STAN Bintaro, dikutip Jumat (26/6/2026).

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kecanggihan teknologi tidak dapat menggantikan proses pembelajaran yang menjadi bagian dari tradisi keilmuan Islam.

“AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, tidak memiliki pengalaman spiritual, dan tidak memikul tanggung jawab moral atas jawaban yang diberikannya,” kata Muchlis.

Dalam orasi bertajuk “Dari Tradisi Keilmuan Menuju Peradaban: Menjadi Generasi Qurani di Era Kecerdasan Buatan”, Muchlis menjelaskan bahwa konsep ilmu dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan benar atau tidaknya sebuah informasi.

Menurutnya, ilmu juga mencakup proses memperoleh pengetahuan, sosok yang mengajarkannya, serta nilai-nilai dan adab yang menyertai proses belajar tersebut.

“Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar soal informasi yang benar, tetapi juga tentang siapa yang mengajarkannya, bagaimana cara memperolehnya, serta nilai-nilai dan adab yang menyertainya,” ujarnya.

Karena itu, AI dinilai dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk memperluas akses pengetahuan sekaligus mendukung proses pembelajaran.

Namun, teknologi tersebut tidak akan pernah menggantikan peran guru, ulama, maupun tradisi talaqqi yang selama ini menjadi fondasi transmisi ilmu Islam sejak masa Rasulullah SAW.

Muchlis juga mengingatkan agar perkembangan teknologi tidak membuat generasi muda kehilangan semangat belajar dan dedikasi dalam menuntut ilmu.

Ia menilai para ulama terdahulu mampu melahirkan karya-karya besar meski hidup dengan keterbatasan fasilitas.

“Kita hari ini memiliki sarana yang melimpah, tetapi sering kali kekurangan kesungguhan. Yang melahirkan karya besar bukan teknologi, melainkan ketulusan dalam berdedikasi dan kesungguhan dalam memanfaatkan teknologi,” ujarnya.

Sebagai contoh, Muchlis mengangkat perjuangan para ulama dalam menjaga integritas keilmuan. Ia menyinggung perjalanan panjang Imam al-Bukhari dalam memverifikasi hadis, serta keteguhan Imam Ahmad bin Hanbal yang rela dipenjara dan disiksa demi mempertahankan kebenaran ilmiah.

“Para ulama dahulu membayar ilmu dengan usia, tenaga, harta, bahkan penderitaan,” katanya.

Lebih lanjut, Muchlis menilai pesantren justru semakin memiliki peran strategis di tengah perkembangan teknologi modern.

Selain menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, pesantren juga berfungsi membentuk karakter, akhlak, integritas, serta menjaga kesinambungan sanad keilmuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menurutnya, tantangan masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang menguasai informasi, tetapi juga pribadi yang memiliki karakter kuat dan tanggung jawab moral.

“Dunia masa depan membutuhkan manusia yang memiliki karakter, akhlak, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral. Di sinilah nilai-nilai Alquran menjadi semakin penting dan semakin dibutuhkan di era kecerdasan buatan,” ujarnya.

Menutup orasinya, Muchlis berpesan kepada para wisudawan agar tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal Alquran semata. Ia mengajak generasi muda menjadikan nilai-nilai Alquran sebagai fondasi untuk berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Jangan hanya menjadi penjaga bacaan Alquran. Jadilah pembangun peradaban dengan Alquran. Jadilah generasi yang memadukan kemurnian wahyu dengan kecanggihan teknologi, memadukan kedalaman ilmu dengan kemuliaan akhlak, serta menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” tuturnya.

Tags: AIKemenagKemenag RIMenteri Agamateknologi AITeknologi ModernTradisi keilmuan Islam

Gusti Ridani

Jurnalis sejak 2020, bergabung ke Kabar Grup Indonesia mulai 2024 sebagai editor.

Next Post
Prabowo Samakan Risiko AI dengan Nuklir, Sebut Bisa Mengancam Peradaban

Prabowo Soroti Fenomena Agen AI, Siapkan Penguatan SDM dan Riset Indonesia

Recommended.

GP Ansor Gelar Imlek 2577, Tegaskan Harmoni Islam dan Budaya Tionghoa

Imlek dan Ramadhan Disatukan, GP Ansor Tegaskan Harmoni Islam dan Budaya Tionghoa

19 Februari 2026
KabarIndonesia.ID

Hingga Februari 2023 Penerimaan Pajak Tumbuh 40,35 Persen

30 Desember 2023

Subscribe.

Trending.

Inilah Daftar Lengkap 13 Komisi DPR RI Dengan Mitra Kerjanya

Inilah Daftar Lengkap 13 Komisi DPR RI Dengan Mitra Kerjanya

23 Oktober 2024
Ketua MPR RI Ahmad Muzan

Prabowo Fokus Tata Hukum Nasional, Respons Kasus Suap Hakim Jadi Sorotan

17 April 2025
Kandaure Toraja: Manik-Manik yang Mengikat Makna dan Tradisi

Kandaure Toraja: Manik-Manik yang Mengikat Makna dan Tradisi

13 Desember 2024
KabarIndonesia.ID

Harga Emas Akhir Bulan di Angka Rp1.029.000 Per Gram

30 Desember 2023
Harga Emas Antam 23 November Naik Rp21.000, Tembus Rp1,541 Juta per Gram

Harga Emas Antam 23 November Naik Rp21.000, Tembus Rp1,541 Juta per Gram

25 November 2024
Kabar Indonesia

Aktual, akurat, berbasis data mengabarkan Indonesia.

Pengelola

PT. Kabar Grup Indonesia

Alamat Redaksi:
Office Park OL3.12A, The Bellagio Mall Jl. Kawasan Mega Kuningan Kav.E.4.3, Setiabudi, Jakarta Selatan
Email: info@kabarindonesia.id

Rubrik

  • AI
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Politik & Pemilu
  • Olahraga
  • Cek Fakta

Jaringan Media

  • Kabar Jawa
  • Kabar Kalimantan
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Makassar
  • Kabar Sumatera
  • Kabar Sunda
  • Rujukan Desa
  • Serambi Muslim

Media Sosial

Follow Us

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Kabar Indonesia - Managed by Kabar Grup Indonesia.

No Result
View All Result
  • Home
  • AI
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik & Pemilu
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Cek Fakta
  • Video
  • Indeks

© 2026 Kabar Indonesia - Managed by Kabar Grup Indonesia.

Not enough quota to unlock this post
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Exit mobile version