• Kabar Makassar
  • Kabar Jawa
  • Kabar Sunda
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Kalimantan
  • Serambi Muslim
KabarIndonesia.id
  • Home
  • AI
    • Bisnis dan Ekosistem
    • Edukasi dan Masa Depan
    • Industri dan Terapan
  • Nasional
  • Daerah
    • Jawa Bali
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Nusa Tenggara
    • Papua
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Pajak
    • Syariah
  • Politik
  • Gaya Hidup
    • Fasion
    • Film dan Musik
    • Otomotif
    • Teknologi
  • Lainnya
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Cek Fakta
    • Video
    • Indeks
No Result
View All Result
Kabar Indonesia
No Result
View All Result
  • Home
  • RUBRIK
  • TENTANG KAMI

Ruang Publik dalam Tekanan: Disinformasi, AI dan Ketimpangan Wilayah

by Gusti
23 Februari 2026
Home Berita Utama
Share ke FBShare ke XShare di WA

KabarIndonesia.id — Gelombang disinformasi di Indonesia dinilai bukan sekadar persoalan konten palsu yang beredar di media sosial, melainkan problem sistemik yang menyangkut literasi, model bisnis platform digital, hingga regulasi yang belum memadai. Di tengah situasi itu, kehadiran kecerdasan artifisial (AI) mempercepat sekaligus memperumit lanskap informasi nasional.

Ketua DigiBroadcast/Digital Media and Broadcasting (MASTEL), Neil R. Tobing, menyebut pihaknya bersama BBC menyusun policy brief dan roadmap penanganan disinformasi dalam kerangka membangun ketahanan informasi nasional. Namun, menurut dia, persoalannya tidak sederhana.

“Kalau bicara kebijakan di Indonesia, ada tiga karakter utama dari ekosistem disinformasi di Indonesia,” ujarnya dalam rangkaian diskusi bertema Navigating AI in Newsrooms: Research Insights and Media Business Sustainability di Hotel Morrissey, Jakarta.

Pertama, rendahnya literasi digital. Dengan penetrasi pengguna media sosial yang mencapai sekitar 160 juta orang, kemampuan publik untuk memilah dan memilih sumber informasi yang kredibel dinilai belum tumbuh secara sistemik.

Kedua, ketergantungan tinggi terhadap platform digital yang mengandalkan trafik dan engagement sebagai model bisnis. Pola ini memang tidak secara langsung menciptakan disinformasi, tetapi mempercepat penyebaran konten emosional, yang kerap menjadi medium subur bagi informasi menyesatkan.

Ketiga, regulasi yang masih bersifat reaktif dan kasus per kasus. Dalam situasi krisis, ketiadaan aturan yang jelas kerap melahirkan respons yang tidak seragam.

Neil mencontohkan peristiwa Agustus lalu, ketika respons terhadap demonstrasi berbeda antara media televisi dan media sosial, memicu kebingungan hingga situasi tak terkendali.

Menurut dia, ketika tiga karakter tersebut bertemu dengan teknologi AI, penyebaran disinformasi menjadi semakin cepat dan terkoordinasi. Dampaknya bukan lagi sporadis, melainkan berisiko secara sistemik terhadap stabilitas informasi publik.

Sementara itu, Founder dan CEO Kabar Grup Indonesia, Upi Asmaradhana, mengingatkan bahwa tantangan disinformasi di Indonesia Timur memiliki dimensi yang berbeda.

“Itu adalah kawasan yang sebenarnya dari segi politik, sosial, dan demokrasi itu sesuatu yang berbeda dari kawasan barat Indonesia dan Kawasan tengah,” ujarnya.

Karena itu, disinformasi dan misinformasi tak bisa semata dipandang sebagai masalah, tetapi harus diarahkan menjadi pintu masuk pemberdayaan.

Upi menyebut upaya kolaboratif ini sebagai blessing in disguise bagi Indonesia Timur, sebuah momentum membangun kesadaran kolektif tentang imajinasi kebangsaan yang lebih adil.

Sejak Maret 2025, ia bersama jejaring media di Papua, Maluku, Sulawesi, dan Gorontalo menggelar pertemuan di Makassar untuk merumuskan langkah bersama.

Tantangan terbesar, menurut dia, bukan sekadar infrastruktur, melainkan literasi kognitif dan keberpihakan politik pemerintah terhadap kawasan tersebut.

Upi menilai roadmap nasional semestinya lebih memotret kebutuhan Indonesia Timur. Kolaborasi dengan kampus pun dilakukan, termasuk penandatanganan nota kesepahaman dengan Universitas Negeri Makassar dan Universitas Hasanuddin, untuk membangun kesadaran politik dan literasi teknologi berbasis AI.

“Yang harus kita bangun adalah ekosistem informasi yang sehat di Indonesia Timur,” ujarnya. Media, kata dia, harus menjadi titik awal penyadaran publik, terutama di wilayah yang masih masuk kategori 3T yang memiliki kondisi terluar, terjauh, dan terisolir.

Dari perspektif gender, Pemimpin Redaksi dan Penanggungjawab Konde.co, Luviana Ariyanti, menyoroti sesuatu yang disebut sebagai kolonisasi data.

Ia mempertanyakan kelompok yang memproduksi data dan teknologi, sementara jurnalis perempuan di Indonesia hanya sekitar 18–20 persen.

“Jadi teknologi itu bukan hanya kita membuka laptop dan mempunyai keahlian menulis, tapi juga perspektif kita tentang keberpihakan,” kata Luviana.

Menurut dia, teknologi bukan semata soal kemampuan teknis, melainkan juga perspektif dan keberpihakan. Ketika diskursus publik hanya berkutat pada angka adopsi teknologi, persoalan dampak terhadap kelompok rentan kerap terabaikan.

Ia mencontohkan maraknya kekerasan berbasis gender secara daring yang dialami perempuan, termasuk di Indonesia Timur. Namun, diskusi publik lebih sering berhenti pada statistik penggunaan teknologi, bukan pada dampak sosialnya.

Konde.co meluncurkan microsite “Perempuan Timur” sebagai pengingat bahwa Indonesia tidak hanya berada di Barat, tetapi juga di Timur. Inisiatif serupa dilakukan Kabar Makassar melalui kanal “Kabar Perempuan”. Bagi Luviana, isu ini harus di-mainstreaming-kan, bukan dipinggirkan.

Dalam diskusi panel ini, Country Director Indonesia dan Pacific BBC Media Action, Rachael McGuinn, menegaskan bahwa organisasinya tidak datang sebagai ahli pembangunan Indonesia, melainkan sebagai fasilitator yang membawa pendekatan berbasis riset dan dialog lintas sektor.

Menurut dia, proyek Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE) ini berangkat dari pertanyaan sederhana, “Apa yang bisa dilakukan untuk mendukung media kepentingan publik dan menciptakan lingkungan informasi yang sehat?” BBC Media Action memulai dengan riset terhadap audiens dan pengalaman mereka menghadapi misinformasi serta disinformasi.

Hasilnya menunjukkan persoalan yang kompleks dan beragam, terutama di Indonesia Timur, dengan kebutuhan informasi yang masih tinggi dan tantangan tersendiri dalam distribusinya.

AI, dalam diskusi ini, dipandang sebagai alat yang dapat membantu menghadirkan keberagaman suara sekaligus membawa risiko baru. Karena itu, pendekatan berbasis bukti dan kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci.

Di tengah percepatan teknologi dan polarisasi informasi, satu benang merah mengemuka, yaitu bahwa ketahanan informasi nasional tak cukup dibangun dengan perangkat digital semata.

Hal ini membutuhkan literasi, regulasi yang adaptif, keberpihakan pada wilayah tertinggal, serta jurnalisme yang tetap berpijak pada kepentingan publik.

Tentang Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE)

Kebutuhan akan platform yang menjembatani riset global, keahlian di tingkat internasional, dan praktik media lokal kian mendesak.

Oleh karena itu Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bekerja sama dengan BBC Media Action melalui proyek Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE) berupaya menjawab kesenjangan tersebut dengan mendiseminasikan riset terkait AI yang relevan bagi ruang redaksi, sekaligus memfasilitasi dialog mengenai keberlanjutan bisnis media di era AI.

Dengan mempertemukan praktisi media, regulator, asosiasi industri, serta pemangku kepentingan di sektor teknologi, forum ini ditujukan untuk mendorong diskusi yang berbasis informasi, kolaborasi lintas sektor, dan pembelajaran bersama.

Pertemuan ini juga menjadi momentum untuk mempererat jejaring dan solidaritas komunitas media Indonesia beserta para mitranya dalam menghadapi tantangan transformasi digital.

Tags: AIBBC Media ActionDisinformasiKetimpangan Wilayah

Gusti

Next Post
Harga Emas Antam Naik Rp4.000, Ini Daftar Harga Terbaru Hari Ini

Harga Emas Antam Hari Ini 24 Februari 2026 Naik Rp40 Ribu, Ini Daftarnya

Recommended.

KabarIndonesia.ID

Presiden Jokowi Tegaskan Larangan Bukber Hanya untuk Pejabat Pemerintah

30 Desember 2023
DPR RI

DPR RI Sewa 120 Mobil Golf Listrik. Berapa Anggarannya ?

5 Januari 2024

Subscribe.

Trending.

Google DeepMind Gandeng A24 Kembangkan AI untuk Produksi Film

Google DeepMind Gandeng A24 Kembangkan AI untuk Produksi Film

25 Juni 2026
DPR Usul AI Bantu Diagnosis di Daerah, Ini Tanggapan Menkes

DPR Usul AI Bantu Diagnosis di Daerah, Ini Tanggapan Menkes

25 Juni 2026
Mulai 1 Juli 2026, Komisi Gojek dan Grab untuk Ojol Resmi Jadi 8 Persen

Mulai 1 Juli 2026, Komisi Gojek dan Grab untuk Ojol Resmi Jadi 8 Persen

24 Juni 2026
AI Tak Bisa Gantikan Ulama dan Tradisi Talaqqi, Ini Penjelasan Kemenag

AI Tak Bisa Gantikan Ulama dan Tradisi Talaqqi, Ini Penjelasan Kemenag

26 Juni 2026
Tips Aman Menggunakan Memory ChatGPT untuk Kerja Digital

Benarkah ChatGPT Semakin “Mengenal” Kamu? Begini Cara Kerja Memory, Chat History, dan Privasi Data

24 Juni 2026
Kabar Indonesia

Aktual, akurat, berbasis data mengabarkan Indonesia.

Pengelola

PT. Kabar Grup Indonesia

Alamat Redaksi:
Office Park OL3.12A, The Bellagio Mall Jl. Kawasan Mega Kuningan Kav.E.4.3, Setiabudi, Jakarta Selatan
Email: info@kabarindonesia.id

Rubrik

  • Kecerdasan Artifisial
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Politik & Pemilu
  • Olahraga
  • Cek Fakta

Jaringan Media

  • Kabar Makassar
  • Kabar Jawa
  • Kabar Sunda
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Kalimantan
  • Rujukan Desa
  • Serambi Muslim

Media Sosial

Follow Us

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Review
  • Photography
  • Security

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Not enough quota to unlock this post
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version