Nilai Tukar Rupiah Menguat, Dipicu Meredanya Ketegangan Geopolitik

IASC Kembalikan Rp161 Miliar Dana Korban Scam, Libatkan 14 Bank

KabarIndonesia.id — Nilai tukar rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sentimen global yang membaik memberikan ruang bagi penguatan rupiah, meski tekanan dari faktor eksternal tetap membayangi.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa meredanya kekhawatiran konflik bersenjata antara Israel dan Iran mendorong sentimen risk on di pasar keuangan global. Hal ini menjadi faktor positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal dan diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk on oleh meredanya situasi geopolitik,” kata Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (25/6).

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Iran sepakat melaksanakan gencatan senjata total yang mulai berlaku pada Selasa (24/6) pukul 04.00 GMT atau 11.00 WIB. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan ketegangan belum sepenuhnya mereda.

Selang beberapa jam setelah gencatan senjata diberlakukan, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memerintahkan serangan lanjutan ke Iran dengan alasan adanya pelanggaran perjanjian. Tuduhan tersebut dibantah oleh pihak Iran yang menegaskan akan memberikan balasan jika diserang kembali.

Sementara itu, Iran pada Senin (23/6) diketahui telah meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid milik militer AS di Qatar. Serangan ini merupakan respons atas pemboman tiga situs nuklir Iran oleh militer AS sehari sebelumnya.

“Situasi di Timur Tengah masih penuh ketidakpastian, namun paling tidak saat ini jauh lebih baik dibanding potensi eskalasi besar-besaran yang sebelumnya dikhawatirkan,” ujar Lukman.

Namun, potensi penguatan rupiah dinilai masih terbatas. Hal ini seiring pernyataan Gubernur Federal Reserve AS, Jerome Powell, yang kembali menegaskan sikap hawkish bank sentral AS. Powell menyebut inflasi masih jauh dari target dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut, terutama jika tekanan harga kembali muncul akibat kebijakan tarif.

Dengan mempertimbangkan faktor geopolitik dan arah kebijakan moneter AS, Lukman memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp16.250 hingga Rp16.350 per dolar AS dalam waktu dekat.

Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi di Jakarta, rupiah tercatat menguat 98 poin atau 0,60 persen ke level Rp16.256 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.354 per dolar AS.

Exit mobile version