KabarIndonesia.id — Arus dana asing yang kembali masuk ke pasar keuangan domestik memberi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai derasnya aliran modal tersebut akan menjadi penopang penguatan nilai tukar rupiah ke depan.
Purbaya menegaskan tidak ada alasan bagi masyarakat untuk khawatir menukar dolar Amerika Serikat ke rupiah, mengingat kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia mulai pulih.
“Gak ada alasan orang takut untuk mengkonversi ke rupiah, asing juga suda masuk anda lihat pasar modal kita. Kalau dikendalikan dengan benar tidak terlalu sulit untuk mengembalikan rupiah,” paparnya kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).
Terkait masuknya modal asing tersebut, Purbaya menyoroti peran Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Ia menilai instrumen moneter itu tidak menjadi persoalan selama dana yang terserap benar-benar berasal dari investor asing, bukan dari dalam negeri.
“Kalau SRBI betul-betul menyerap dana asing ya gak apa2, tapi kan banyak juga domestik masuk situ,” ujarnya.
Oleh karena itu, Purbaya menyebut keberadaan SRBI masih perlu dikaji ke depan. Ia kembali mengingatkan bahwa instrumen tersebut berpotensi menyedot likuiditas perbankan jika terlalu banyak diserap oleh investor domestik.
Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI tahun lalu, Purbaya mengungkapkan sekitar Rp1.000 triliun dana perbankan terparkir di SRBI dan instrumen operasi pasar terbuka lainnya. Kondisi tersebut dinilai menahan likuiditas yang seharusnya bisa mengalir ke sektor produktif.
“Boleh bantu sedikit saja. Lebih bagus lagi kalau dikurangi, peredaran uang bisa lebih longgar dan membantu pemulihan ekonomi,” katanya.
Sekadar informasi, SRBI merupakan instrumen operasi moneter yang diterbitkan Bank Indonesia untuk mengelola likuiditas sekaligus memperkuat transmisi kebijakan suku bunga.
Instrumen ini pertama kali diperkenalkan Gubernur BI Perry Warjiyo pada Agustus 2023 sebagai langkah tambahan menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan dolar AS dan gejolak pasar global.
Berbeda dengan Surat Berharga Negara (SBN) yang digunakan pemerintah untuk membiayai APBN, SRBI berfungsi murni sebagai instrumen moneter.
Instrumen ini bersifat jangka pendek, dapat menawarkan jaminan, dan menawarkan imbal hasil menarik risiko dengan rendah karena diterbitkan langsung oleh bank sentral.
Purbaya pun optimistis, dengan kebijakan pengelolaan yang tepat dan aliran modal asing yang terus menguat, stabilitas rupiah dapat kembali terjaga sekaligus mendorong pemulihan ekonomi nasional.












