KabarIndonesia.id — Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty menilai lemahnya daya saing industri farmasi nasional bukan semata-mata akibat ketidakefisienan produksi. Justru, mahalnya harga bahan baku dan tingginya biaya produksi di dalam negeri menjadi faktor utama yang membuat produk farmasi Indonesia sulit bersaing dengan produk impor.
“Kalau misalnya bahan bakunya mahal, otomatis kan jadinya harganya tinggi. Sebenarnya kan bukan karena mereka itu produknya mahal, bukannya mereka itu tidak efisien, bukan begitu. Tapi memang memproduksi itu tinggi di Indonesia,” ujar Evita usai memimpin rapat Komisi VII DPR RI bersama Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin, Direktur Utama Bio Farma, Direktur Utama Kimia Farma, serta Direktur Utama Indofarma di PT Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026).
Evita menjelaskan, tingginya ongkos produksi dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari harga bahan produksi yang mahal hingga keterbatasan pasokan bahan baku.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap harga jual dan daya saing produk farmasi nasional, baik di pasar domestik maupun global.
“Masalah gas, harga gas yang tinggi, bahan baku yang sulit itu banyak faktor-faktor yang menyebabkan daya saing kita itu jadi rendah. Ketika masalah-masalah yang kita dapat di lapangan ini bisa kita carikan solusinya, kita berharap daya saing produk Indonesia itu tidak akan kalah dengan produk-produk luar,” jelasnya.
Selain persoalan biaya, Evita juga menyoroti masih adanya tumpang tindih kebijakan antar kementerian dan lembaga dalam pengembangan industri nasional.
Menurutnya, pembelian industri farmasi tidak bisa dibebankan hanya kepada satu kementerian, karena berkaitan erat dengan sektor lain, mulai dari lingkungan hidup hingga perizinan AMDAL.
“Kebijakan kita ini masih tumpang tindih. Sekarang ini tidak bisa Kemenperin saja kalau kita bicara izin industri. Memang Kemenperin bisa sendiri? Enggak! Karena ada kaitannya dengan lingkungan hidup, dengan AMDAL, ada hubungan dengan lintas K/L terkait lainnya. Jadi semuanya ini harus memiliki kemauan politik. Itu yang paling penting. Kalau semua K/L itu memiliki kemauan politik untuk kemajuan daripada kemandirian produk industri dalam negeri kita, insyaallah itu bisa tercapai,” ujarnya.
Ia menegaskan, komitmen politik yang kuat dan sinergi lintas sektor menjadi kunci agar industri farmasi nasional mampu bangkit, mandiri, dan bersaing di tengah ketatnya pasar global.












