BPK Wilayah IV Teliti 481 Keramik BMKT di Museum SSBA Tanjungpinang

BPK Wilayah IV Kepri identifikasi 481 keramik BMKT di Museum SSBA

KabarIndonesia.id — Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV Kepulauan Riau melakukan kajian identifikasi terhadap 481 keramik benda muatan kapal tenggelam (BMKT) yang tersimpan di Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) Kota Tanjungpinang.

Pamong Budaya Ahli Muda BPK Wilayah IV, Azwar Sutihat, menegaskan pentingnya studi ini mengingat selama bertahun-tahun belum pernah ada penelitian mendalam terhadap koleksi berharga tersebut.

“Kami melakukan identifikasi untuk mengetahui asal-usul keramik. Dari hasil awal, sebagian besar diperkirakan berasal dari Tiongkok pada masa Dinasti Qing abad ke-17,” ujar Azwar di Tanjungpinang, Jumat.

Proses identifikasi ini dikerjakan oleh enam pegawai BPK Wilayah IV yang dibantu tim dari Museum SSBA. Koleksi keramik tersebut berasal dari dua kelompok penyerahan pada tahun 2014, yaitu 79 buah yang diserahkan oleh TNI AU Tanjungpinang dan 402 buah titipan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.

Tim kemudian memetakan jenis, bentuk, dan motif keramik seperti piring, mangkuk, serta teko. Semua temuan didokumentasikan secara sistematis sebagai bahan penyusunan basis data BPK Wilayah IV.

Lebih lanjut, BPK Wilayah IV juga berencana menggelar diskusi kelompok terfokus untuk membahas tindak lanjut pengelolaan koleksi yang sebagian besar statusnya masih titipan.

“Kalau statusnya sudah jelas, tentu pemanfaatannya juga akan lebih mudah. Kami ingin ada kesepakatan bersama dari para pemangku kepentingan agar koleksi ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh museum,” jelas Azwar.

Ia menambahkan, metode identifikasi didasarkan pada ciri khas keramik Tiongkok masa lalu yang biasa dibawa kapal dagang sebelum akhirnya karam di perairan Nusantara, termasuk Kepulauan Riau.

Setiap dinasti di Tiongkok memiliki gaya dan karakteristik unik, sehingga keramik dapat diidentifikasi berdasarkan motif, bentuk, dan periode produksinya.

Salah satu temuan yang berhasil diidentifikasi adalah jenis Batavia ware, yang diproduksi sekitar tahun 1672–1677 pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi Dinasti Qing. Keramik ini merupakan produk pesanan khusus dari VOC, yang dikirim dari Tiongkok ke Batavia (sekarang Jakarta) untuk kemudian didistribusikan ke Eropa.

“Ciri khas Batavia ware adalah bagian luarnya berwarna cokelat, sedangkan bagian dalamnya bermotif biru-putih. Dari ciri-ciri inilah kita bisa menentukan periode produksinya,” ujar Azwar.

Sementara itu, Kepala UPTD Museum SSBA, Siti Umi Muslimah, menyampaikan apresiasi kepada Tim BPK Wilayah IV yang telah merespons permohonan identifikasi koleksi tersebut.

Ia menyebut sejak pertama kali dititipkan pada tahun 2014 atau sekitar 11 tahun lalu, keramik-keramik ini memang belum pernah dikaji secara menyeluruh.

“Harapan kami setelah seluruh proses dan perizinan selesai, koleksi ini dapat dimanfaatkan lebih luas dan diinformasikan kepada masyarakat,” tuturnya.

Sebagai bagian dari langkah pemanfaatan koleksi, Museum SSBA berencana mengadakan pameran temporer yang menampilkan keramik-keramik ini pada Oktober 2025 mendatang.