Anggaran MBG Tak Terserap, KSP Sebut Realokasi Jadi Solusi Bijak

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari

KabarIndonesia.id — Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari menilai wacana pengalihan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak terserap merupakan langkah tepat demi menjaga efisiensi penggunaan keuangan negara.

Pernyataan ini disampaikan Qodari menanggapi rencana Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa yang membuka opsi realokasi dana MBG ke program lain maupun untuk membayar utang negara.

“Harusnya itu langkah yang benar. Presiden Prabowo mendorong efisiensi dan realokasi. Kalau dana dipindahkan dari kantong A ke kantong B, misalnya MBG, tapi serapannya hanya 10 persen, maka 90 persen sisanya tidak mengucur dan tidak menciptakan likuiditas,” ujar Qodari di Jakarta, Sabtu.

Menurutnya, kebijakan tersebut secara logis sudah tepat, meski tetap diperlukan perencanaan teknis matang agar anggaran yang dialihkan tidak kembali macet di program lain.

Ia menambahkan, lebih baik dana yang tidak terserap segera diarahkan pada program-program yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat. “Kalau saya jadi Pak Purbaya, tentu langkahnya sama. Dana 90 persen itu kalau tidak bergerak, lebih baik disalurkan ke program lain agar ekonomi berputar dan kesejahteraan rakyat meningkat,” tegas Qodari.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan anggaran MBG yang tak terserap menganggur hingga akhir tahun. Jika realisasi penyerapan rendah hingga akhir Oktober 2025, dana tersebut akan dialihkan ke program lain, digunakan untuk mengurangi defisit, atau membayar utang negara.

“Kalau di akhir Oktober penyerapannya hanya segini, maka dananya kita ambil. Kita sebar ke tempat lain, atau untuk mengurangi defisit dan utang. Prinsipnya, tidak ada uang yang dibiarkan menganggur di kementerian hingga akhir tahun,” jelasnya.

Untuk tahun anggaran 2025, pemerintah telah menyiapkan Rp71 triliun bagi Program MBG. Program ini ditargetkan menjangkau 82,9 juta penerima, termasuk 15,5 juta anak sekolah, 2,4 juta ibu hamil, menyusui, dan balita, serta kelompok masyarakat lain yang dilayani sekitar 32 ribu Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG).

Exit mobile version