KabarIndonesia.id — Ancaman baru dari Teheran membuat pasar energi global menahan napas. Parlemen Iran mendorong pemerintah menutup Selat Hormuz sebagai respons atas terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Parlemen Iran dilaporkan telah menyatakan dukungan atas wacana tersebut. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan dewan keamanan nasional Iran. Jika benar-benar direalisasikan, langkah ini akan menjadi yang pertama sejak konflik Iran–Israel pecah pada 1979.
Secara geografis, Selat Hormuz hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer. Tapi jangan mengingat ukurannya. Teluk jalur sempit ini menjadi penghubung utama antara Persia yang kaya minyak dengan pasar global.
Sekitar 22 persen pasokan minyak dunia—nyaris seperempat—melintasinya. Tak hanya itu, hampir 20 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global pada tahun 2022 juga melewati perairan ini.
Selain minyak mentah, kapal pengangkut LNG, produk petrokimia, hingga komoditas penting lainnya bergantung pada stabilitas selat tersebut.
Gangguan sekecil apa pun berpotensi memicu terganggunya harga energi, memutar rantai pasok, dan mengguncang perekonomian banyak negara.
Posisi Iran dan Dampak Global
Republik Islam Iran kini dinilai berada pada titik paling dekat untuk benar-benar mengambil langkah drastis itu. Sebelumnya, sejumlah analis meragukan ancaman serupa karena Iran secara historis cenderung memilih respons yang lebih terukur.
Namun, serangan yang ditujukan pada puncak tertinggi negara itu diyakini bisa mengubah kalkulasi politik Teheran. Jika opsi penutupan tercapai, dampaknya tidak hanya bersifat regional, tetapi global.
Lingkaran Ketegangan di Sekitar Selat
Secara geopolitik, Selat Hormuz berada di wilayah yang sensitif. Di sisi barat terdapat Uni Emirat Arab dan Oman. Iran menguasai garis pantai utara, sementara Arab Saudi dan Bahrain berada di seberangnya.
Kombinasi posisi strategis dan kekayaan energi menjadikan kawasan ini titik panas yang tak pernah benar-benar dingin.
Iran kerap melontarkan ancaman penutupan ketika ketegangan meningkat. Pada tahun 2019, misalnya, saat hubungan Teheran dan Washington memuncak, Iran menyita kapal tanker yang melintas di wilayah tersebut.
Insiden itu memicu kekhawatiran global terkait keamanan jalur pelayaran dan stabilitas pasar minyak.
Konsentrasi Militer dan Risiko Konflik
Perairan ini juga menjadi panggung pertunjukan kekuatan militer. Amerika Serikat dan Iran sama-sama menempatkan armada di sekitar kawasan.
Angkatan Laut AS bersama sejumlah anggota NATO rutin berpatroli guna memastikan jalur tetap terbuka. Uni Emirat Arab dan Arab Saudi pun menjaga kehadiran militer untuk melindungi fasilitas energi mereka.
Namun, semakin padatnya kekuatan militer di satu titik strategi justru meningkatkan risiko salah hitung. Sedikit memperbaikinya bisa berubah menjadi krisis besar.
Iran berulang kali menegaskan akan menutup Selat Hormuz jika menjadi sasaran aksi militer. Jika ancaman yang diwujudkan, dunia berpotensi menghadapi krisis energi global, memaksa negara-negara pengimpor minyak Teluk mencari jalur alternatif, yang jelas tidak mengucapkan sepatah kata pun.












