KabarIndonesia.id — Kelahiran prematur masih menjadi masalah global, World Health Organization (WHO) mencatat dalam satu dekade terakhir, terdapat sekitar 152 juta bayi lahir secara prematur.
Dilansir dari Laporan 'The Born Too Soon: Decade of Action on Preterm Birth' yang dibuat oleh World Health Organization (WHO), the United Nations Children’s Fund (UNICEF), dan the Partnership for Maternal, Newborn & Child Health (PMNCH), di seluruh dunia, 1 dari 10 bayi lahir prematur (dengan usia kandungan<37 minggu kehamilan) – itu diperkirakan satu bayi setiap dua detik.
Selain itu, laporan tersebut juga menyebutkan, tingkat kelahiran prematur hampir tidak menunjukkan perubahan selama dekade terakhir.
Pada tahun 2020 diperkirakan hampir 1 juta bayi baru lahir meninggal karena komplikasi kelahiran prematur (satu bayi setiap 40 detik) dan jutaan lainnya bertahan hidup dengan disabilitas yang mengikuti mereka dan keluarga mereka sepanjang masa hidupnya.
WHO mencatat pada tahun 2019, sekitar 900000 anak di bawah usia lima tahun meninggal dengan penyebab utama komplikasi kelahiran prematur.
Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Umumnya, bayi prematur memiliki berat lebih kecil dari yang seharusnya atau yang disebut dengan Kecil Masa Kehamilan (KMK). Tidak hanya berukuran kecil, bayi prematur terlahir dengan fungsi organ yang belum sempurna sehingga membutuhkan perhatian khusus seperti perawatan intensif.
Di Indonesia sendiri, prevalensi prematur diperkirakan sekitar 10%. Sementara berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Indonesia sebesar 6,0%. BBLR dan kelahiran prematur dapat berdampak serius pada kesehatan bayi, termasuk stunting.
Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak dr. Lovely Daisy menyampaikan pencegahan kelahiran prematur dan bayi BBLR merupakan bagian dari pencegahan stunting. Berdasarkan SSGI 2022, salah satu faktor terjadinya stunting pada bayi usia 0-11 bulan adalah bayi BBLR, prematuritas dan penyakit infeksi.
“Kita ingin menurunkan stunting melalui pencegahan bayi lahir prematur, jadi kalau sudah mengobati itu akan butuh waktu lama, biaya mahal dan hasilnya tidak optimal, jadi yang penting adalah kita harus melakukan pencegahan,” kata dr. Lovely dalam media briefing yang dilaksanakan di RSAB Harapan Kita Jakarta, Jumat, (15/12).
dr. Lovely melanjutkan, hal yang sangat perlu dilakukan adalah deteksi dini. Bahkan, deteksi dini ini perlu dilakukan sebelum hamil untuk menghindari ibu hamil dengan berbagai faktor risiko serta mencegah BBLR dan stunting pada bayi.
dr. Lovely menjelaskan pencegahan BBLR dan stunting juga perlu dilakukan melalui intervensi sebelum hamil dan ketika hamil. Intervensi sebelum hamil dilakukan dengan cara skrining anemia dan konsumsi tablet tambah darah. Sedangkan intervensi pada ibu hamil dengan cara melakukan pemeriksaan minimal enam kali selama hamil, mengonsumsi tablet tambah darah, dan pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil KEK (Kurang Energi Kronis).
“Untuk perawatan bayi prematur dan BBLR, yakni pastikan bayi dalam keadaan selalu hangat, pastikan asupan gizi bayi terpenuhi, serta pastikan kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan bayi selalu terpantau secara rutin,” kata dr. Lovely.
Prof. Dr. Rinawati sebagai salah satu narasumber pada kegiatan media briefing menjelaskan gambaran bayi lahir prematur di Indonesia. Penyebab paling sering bayi lahir prematur adalah kehamilan kembar, infeksi, diabetes, preeklampsia (tekanan darah tinggi, bengkak). Di sisi lain, BBRL atau bayi lahir prematur adalah salah satu penyebab kematian yang paling banyak 27,6%.
“Bayi prematur menjadi penyumbang 1/3 bayi menjadi stunting dan 2/3 angka kematian bayi, kalau kita mampu mencegah bayi lahir prematur Indonesia akan menjadi sangat pesat,” ungkap Prof. Rinawati.
Prof. Rinawati menjelaskan, bayi lahir prematur membutuhkan kehangatan lebih dibandingkan bayi lahir normal karena lapisan lemaknya lebih sedikit dan kulit yang lebih tipis. Selain itu, bayi lahir prematur membutuhkan asupan nutrisi yang istimewa.
Bayi lahir prematur juga terlahir dalam proses penyempurnaan organ sehingga membutuhkan perhatian khusus dan skrining. “Penglihatan dan pendengarannya harus diperiksa secara rutin pada tahun pertama dan membutuhkan kasih sayang, dukungan emosional serta stimulasi yang lebih intensif,” kata Prof. Rinawati.
Dr. Johanes Edy yang juga merupakan narasumber pada media briefing menyampaikan bahwa deteksi dan tata laksana dini faktor risiko selama kehamilan merupakan salah satu kunci pencegahan prematuritas dan BBLR.
“Pemeriksaan yang berkualitas faktor risiko prematur dan BBLR dapat ditemukan lebih dini sehingga dapat diberikan tatalaksana yang tepat untuk menjamin kesehatan ibu dan janin,” kata Dr. Johanes.
Kementerian Kesehatan telah menetapkan standar pemeriksaan kesehatan selama kehamilan. Setidaknya, ibu harus memeriksakan kehamilannya enam kali sepanjang masa kehamilan, yaitu satu kali di trimester pertama, dua kali di trimester kedua, dan tiga kali di trimester ketiga.
Pemeriksaan pada trimester pertama dan ketiga perlu dilakukan di dokter agar ibu mendapatkan pemeriksaan secara komprehensif untuk mendeteksi faktor risiko komplikasi yang berkaitan dengan kehamilan ataupun penyakit penyerta lainnya.












