KABARINDONESIA.ID — Pemerintah memperkuat komitmen membangun ekosistem riset nasional dengan menambah anggaran penelitian hingga Rp4 triliun.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan riset di Indonesia berjalan lebih terintegrasi, tepat sasaran, dan mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan strategis nasional.
“Di pertemuan yang sebelumnya, waktu di Istana, dulu (Presiden Prabowo) sudah memberikan petunjuk untuk menambah anggaran riset kita, sampai di angka Rp4 triliun,” ujar Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi usai penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026, dikutip Senin (29/6/2026).
Menurut Prasetyo, arahan Presiden tersebut kini ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains dan Teknologi, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kolaborasi tersebut dipimpin oleh Prof. Arief Satria dengan tujuan menyatukan arah kebijakan riset nasional agar seluruh penelitian memiliki tujuan yang sama dan mendukung pembangunan nasional.
“Sekarang dipimpin oleh Prof. Arief Satria, untuk menyatukan semua riset kita,” ujarnya.
Riset Nasional Disusun dalam Satu Grand Design
Pemerintah juga telah menyusun peta jalan riset nasional sebagai acuan bersama bagi seluruh lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Dengan adanya roadmap tersebut, riset di Indonesia diharapkan tidak lagi berjalan secara terpisah, melainkan menjadi bagian dari satu desain besar pembangunan nasional.
“Jadi peta jalan riset seperti tadi, bukunya kan sudah dihasilkan, yang intinya adalah riset-riset yang sekarang kita jalankan semua harus dalam satu grand design,” tegas Prasetyo.
Melalui pendekatan tersebut, hasil penelitian diharapkan mampu saling melengkapi serta menghasilkan inovasi yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat.
Presiden Dorong Riset yang Berdampak Langsung
Prasetyo menegaskan, Presiden Prabowo menginginkan riset nasional tidak berhenti pada publikasi ilmiah atau temuan akademik semata. Sebaliknya, penelitian harus mampu menjawab berbagai persoalan konkret yang dihadapi bangsa.
Beberapa bidang yang menjadi perhatian pemerintah antara lain pengelolaan sampah, pengembangan energi, hingga penelitian mengenai transisi penggunaan energi dari LPG menuju Compressed Natural Gas (CNG).
“Riset-riset yang kita jalankan diharapkan riset-riset yang langsung memberikan dampak untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi. Misalnya contoh riset tentang sampah, riset energi, kemudian peralihan kalau dari LPG menuju ke CNG, riset-riset yang langsung berdampak pada menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi,” lanjutnya.
Akademisi Dinilai sebagai Aset Intelektual Bangsa
Pada kesempatan yang sama, Prasetyo juga menjelaskan alasan Presiden Prabowo menghadiri pembukaan maupun penutupan Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026.
Menurutnya, Kepala Negara memandang kalangan akademisi memiliki posisi strategis sebagai aset intelektual bangsa yang berperan penting dalam merumuskan solusi atas berbagai tantangan nasional.
“Sebagaimana yang di awal pembukaan disampaikan bahwa bagi Pak Prabowo, bagi Bapak Presiden, para dekan, guru besar, rektor itu adalah pribadi-pribadi yang terpintar yang dimiliki oleh sebuah bangsa,” ucapnya.
Pemerintah berharap sinergi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia industri dapat mempercepat lahirnya inovasi yang mampu meningkatkan daya saing Indonesia sekaligus mendukung pencapaian target pembangunan nasional.






