KabarIndonesia.id — Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, dalam upaya memperkuat kemitraan strategis kedua negara di tengah dinamika global. Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, mulai dari sektor energi hingga kerja sama antariksa.
Pertemuan berlangsung intensif selama lima jam, terdiri dari dua jam pertemuan bilateral dan tiga jam pembicaraan empat mata antara kedua pemimpin.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa kerja sama di sektor energi dan sumber daya mineral menjadi salah satu fokus utama.
“Disepakati beberapa poin, antara lain kerja sama di sektor ESDM jangka panjang, termasuk ketahanan energi migas dan hilirisasi,” ujar Teddy dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (15/4/2026).
Langkah ini mengukur strategi dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pengembangan industri berbasis sumber daya alam.
Selain energi, Indonesia dan Rusia juga sepakat memperluas kerja sama di berbagai sektor lain, seperti pendidikan, penelitian teknologi, pertanian, dan investasi industri.
Kolaborasi tersebut diharapkan memberikan dampak langsung terhadap pembangunan nasional, khususnya dalam penguatan industri dan inovasi.
Teddy menilai Rusia memiliki posisi strategis dalam peraturan global, termasuk sebagai anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan salah satu pendiri BRICS .
“Kita ketahui bahwa posisi Rusia sangat strategis di dunia global,” ucapnya.
Rusia juga disebut sebagai negara dengan sumber daya alam besar yang dapat menjadi mitra penting bagi Indonesia dalam pembangunan jangka panjang.
Pertemuan ini menandai semakin eratnya hubungan kedua negara. Dalam satu tahun terakhir, Presiden Prabowo dan Presiden Putin tercatat telah bertemu hingga lima kali di berbagai kesempatan.
Presiden Putin sendiri menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Rusia terus berkembang secara konsisten, terutama setelah deklarasi kemitraan strategis pada tahun 2025.
“Saya sangat senang bahwa kami melakukan langkah-langkah yang memberikan makna dan isi yang cukup besar antara hubungan kedua negara kita,” ujar Putin.
Putin juga menyoroti peningkatan perdagangan bilateral yang tumbuh hingga 12 persen, meski sempat mengalami perlambatan di awal tahun.
Ia menegaskan bahwa kedua negara memiliki berbagai peluang untuk meningkatkan kerja sama, termasuk melalui komisi bersama antarpemerintah.
Selain energi, Putin menyebut sektor lain yang menjadi fokus kerja sama ke depan, seperti antariksa, industri, farmasi, pertanian, serta pendidikan.
“Antara lain, kita bicara mengenai kerja sama di bidang energi, di bidang antariksa, juga di bidang pertanian, industri, serta farmasi,” katanya.
Putin menilai keanggotaan Indonesia di BRICS membuka peluang baru dalam penguatan kerja sama, termasuk di kawasan Uni Ekonomi Eurasia.
“Indonesia sudah menjadi anggota BRICS, hal ini membuka peluang baru untuk mengembangkan kerja sama kita,” tandasnya.
Pertemuan ini menegaskan komitmen Indonesia dan Rusia untuk tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga menjadi kekuatan kolaboratif dalam menjaga stabilitas dan mendorong kemajuan global.
Kerja sama lintas sektor yang disepakati diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam peraturan ekonomi dan geopolitik dunia.












