• Kabar Jawa
  • Kabar Kalimantan
  • Kabar Makassar
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Sumatera
  • Kabar Sunda
KabarIndonesia.id
  • Home
  • AI
    • Bisnis dan Ekosistem
    • Edukasi dan Masa Depan
    • Regulasi dan Etika
    • Industri dan Terapan
    • Inovasi dan Tren
  • Nasional
  • Daerah
    • Jawa Bali
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Nusa Tenggara
    • Papua
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Pajak
    • Syariah
  • Politik
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Film dan Musik
    • Otomotif
    • Teknologi
  • Lainnya
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Cek Fakta
    • Video
    • Indeks
No Result
View All Result
Kabar Indonesia
No Result
View All Result
  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

BRIN Gunakan AI untuk Prediksi Badai Matahari, Akurasi Meningkat

by Gusti Ridani
25 Juni 2026
Home Kabar AI Industri dan Terapan
Share ke FBShare ke XShare di WA

KABARINDONESIA.ID — Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan model berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu meningkatkan akurasi prediksi kedatangan badai Matahari ke Bumi.

Inovasi tersebut diharapkan memperkuat sistem peringatan dini cuaca antariksa guna melindungi satelit, jaringan komunikasi, sistem navigasi, hingga infrastruktur kelistrikan dari dampak badai Matahari.

Badai Matahari merupakan gangguan sementara pada medan magnet Bumi (magnetosfer) yang dipicu oleh aktivitas Matahari. Salah satu penyebab utamanya adalah Coronal Mass Ejection (CME), yaitu lontaran plasma dan medan magnet dalam jumlah besar dari atmosfer Matahari menuju ruang angkasa.

Ketika CME mengarah ke Bumi, para peneliti harus mampu memperkirakan waktu kedatangannya secara akurat agar langkah mitigasi dapat dilakukan lebih dini.

Peneliti Pusat Riset Antariksa, Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Tiar Dani, menjelaskan proses tersebut melalui ilustrasi sederhana.

“Bayangkan sebuah peluru ditembakkan ke dalam air. Meski awalnya melaju sangat cepat, kecepatannya akan berkurang karena adanya hambatan dari air. Fenomena serupa terjadi pada CME. Saat melesat dari Matahari menuju Bumi, CME tidak bergerak di ruang hampa yang benar-benar kosong. Ia harus menembus aliran partikel bermuatan yang terus mengalir dari Matahari, yang dikenal sebagai (solar wind) angin surya. Interaksi dengan angin surya inilah yang menghasilkan gaya (drag) hambatan sehingga kecepatan CME dapat berubah selama perjalanan,“ ujarnya kepada tim Humas BRIN dalam keterangannya, dikutip Kamis (25/6/2026).

Menurut Tiar, selama bertahun-tahun prediksi waktu kedatangan CME menjadi tantangan besar karena kondisi angin surya sangat dinamis sehingga sulit dimodelkan hanya menggunakan pendekatan fisika konvensional.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim BRIN mengembangkan model hibrida yang menggabungkan hukum fisika dengan teknologi AI.

Model fisika yang digunakan adalah Drag-Based Model (DBM), yaitu model yang menggambarkan pengaruh hambatan angin surya terhadap pergerakan partikel berenergi tinggi dari CME.

Model tersebut kemudian dipadukan dengan AI berbasis Random Forest yang dilatih menggunakan data historis berbagai kejadian CME selama dua siklus aktivitas Matahari.

“Melalui proses pembelajaran dari data tersebut, AI mampu memperkirakan besarnya hambatan yang akan dialami setiap CME selama perjalanannya menuju Bumi. Dengan kata lain, sistem ini tidak hanya memahami aturan fisika yang mendasari pergerakan CME, tetapi juga belajar dari pengalaman masa lalu untuk menghasilkan prediksi kapan CME akan tiba yang lebih akurat,” Tiar menjelaskan.

Hasil penelitian menunjukkan model DBM berbasis fisika dan AI tersebut mampu memprediksi waktu tempuh CME (CME Transit Time) dengan tingkat kesalahan rata-rata sekitar 8,7 jam.

Dalam bidang cuaca antariksa, capaian tersebut dinilai sangat kompetitif dan memberikan peningkatan akurasi dibandingkan model DBM standar yang selama ini mengasumsikan hambatan angin surya bersifat konstan sepanjang perjalanan CME.

Keberhasilan ini menjadi fondasi penting dalam membangun sistem peringatan dini cuaca antariksa yang lebih andal.

Dengan prediksi yang lebih cepat dan akurat, operator satelit, penyedia layanan komunikasi, hingga pengelola infrastruktur strategis dapat melakukan langkah antisipasi sebelum badai Matahari menghantam Bumi.

“Melalui riset ini fondasi untuk pemanfaatan kecerdasan buatan dalam ranah antariksa di Indonesia akan semakin kuat. Ke depannya, inovasi ini akan menjadi bagian penting dari inisiatif Research in AI for Space yang sedang kami bangun. Tujuannya adalah menciptakan kerangka kerja peringatan dini cuaca antariksa yang sepenuhnya mandiri, tangguh, dan dapat terus dikembangkan secara otomatis untuk melindungi infrastruktur teknologi masa depan,” ujarnya.

Pengembangan model AI tersebut sekaligus menandai langkah BRIN dalam memperkuat riset antariksa berbasis teknologi digital, sekaligus mendukung kemandirian Indonesia dalam sistem pemantauan dan mitigasi cuaca antariksa di masa depan.

Tags: AIbadai matahariBRINCuaca AntariksaPenelitian BRINteknologi AIteknologi antariksa IndonesiaTeknologi Modern

Gusti Ridani

Jurnalis sejak 2020, bergabung ke Kabar Grup Indonesia mulai 2024 sebagai editor.

Next Post
DPR Usul AI Bantu Diagnosis di Daerah, Ini Tanggapan Menkes

DPR Usul AI Bantu Diagnosis di Daerah, Ini Tanggapan Menkes

Recommended.

Lifter Nurul Akmal Gagal Ikut Jejak Rizki Juniansyah

Lifter Nurul Akmal Gagal Ikut Jejak Rizki Juniansyah

11 Agustus 2024
Registrasi Akun SNPMB 2024 Dibuka, Begini Caranya!

Registrasi Akun SNPMB 2024 Dibuka, Begini Caranya!

8 Januari 2024

Subscribe.

Trending.

Inilah Daftar Lengkap 13 Komisi DPR RI Dengan Mitra Kerjanya

Inilah Daftar Lengkap 13 Komisi DPR RI Dengan Mitra Kerjanya

23 Oktober 2024
Ketua MPR RI Ahmad Muzan

Prabowo Fokus Tata Hukum Nasional, Respons Kasus Suap Hakim Jadi Sorotan

17 April 2025
Kandaure Toraja: Manik-Manik yang Mengikat Makna dan Tradisi

Kandaure Toraja: Manik-Manik yang Mengikat Makna dan Tradisi

13 Desember 2024
KabarIndonesia.ID

Harga Emas Akhir Bulan di Angka Rp1.029.000 Per Gram

30 Desember 2023
Harga Emas Antam 23 November Naik Rp21.000, Tembus Rp1,541 Juta per Gram

Harga Emas Antam 23 November Naik Rp21.000, Tembus Rp1,541 Juta per Gram

25 November 2024
Kabar Indonesia

Aktual, akurat, berbasis data mengabarkan Indonesia.

Pengelola

PT. Kabar Grup Indonesia

Alamat Redaksi:
Office Park OL3.12A, The Bellagio Mall Jl. Kawasan Mega Kuningan Kav.E.4.3, Setiabudi, Jakarta Selatan
Email: info@kabarindonesia.id

Rubrik

  • AI
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Politik & Pemilu
  • Olahraga
  • Cek Fakta

Jaringan Media

  • Kabar Jawa
  • Kabar Kalimantan
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Makassar
  • Kabar Sumatera
  • Kabar Sunda
  • Rujukan Desa
  • Serambi Muslim

Media Sosial

Follow Us

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Kabar Indonesia - Managed by Kabar Grup Indonesia.

No Result
View All Result
  • Home
  • AI
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik & Pemilu
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Cek Fakta
  • Video
  • Indeks

© 2026 Kabar Indonesia - Managed by Kabar Grup Indonesia.

Not enough quota to unlock this post
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Exit mobile version