KABARINDONESIA.ID — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria menegaskan Indonesia perlu menjadikan diplomasi chip dan pemanfaatan mineral kritis sebagai instrumen geopolitik digital untuk memperkuat posisi di tengah persaingan global pengembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).
Menurut Nezar, kekayaan sumber daya mineral strategis yang dimiliki Indonesia harus dimanfaatkan sebagai daya tawar untuk memperoleh akses terhadap komputasi, transfer teknologi, hingga kemitraan manufaktur, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar atau pemasok bahan mentah bagi industri teknologi global.
“Indonesia perlu menggunakan mineral kritis untuk menegosiasikan akses yang lebih baik ke komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur,” tegas Wamen Nezar dalam acara Jakarta Geopolitical Forum, dikutip Senin (13/7/2026).
Nezar menjelaskan Indonesia memiliki modal strategis yang sulit ditandingi banyak negara karena menguasai sejumlah komoditas penting yang menjadi fondasi industri teknologi modern.
“Kami memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, yang memberi kami posisi yang kuat dalam rantai pasokan baterai global. Kami adalah produsen kobalt terbesar kedua di dunia, material kunci untuk baterai berkinerja tinggi dan semikonduktor canggih. Selain itu, kami adalah eksportir bijih tembaga terbesar ketiga, mineral penting untuk sistem pengkabelan dan pendinginan pusat data yang menampung infrastruktur AI. Kekayaan mineral ini merupakan keunggulan strategis kami. Hal ini memungkinkan kami untuk melampaui sekadar menjadi konsumen teknologi dan menjadi pemain kunci dalam ekosistem AI global,” jelas Wamen Nezar.
Di tengah meningkatnya rivalitas teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Nezar menilai Indonesia perlu menentukan jalur strategisnya sendiri melalui diplomasi digital yang berorientasi pada kepentingan nasional.
Menurutnya, posisi Indonesia didukung oleh empat kekuatan utama, yakni cadangan mineral kritis, pasar digital terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi, serta kapasitas komputasi yang harus diperkuat melalui pengembangan talenta, data, dan industri nasional.
Nezar menekankan bahwa keunggulan suatu negara pada era AI tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang pertama menciptakan teknologi baru.
Faktor yang lebih menentukan adalah kemampuan membangun ekosistem yang mencakup sumber daya manusia, infrastruktur komputasi, data, serta industri yang mampu mengadopsi AI di berbagai sektor ekonomi.
Sebagai implementasi strategi tersebut, pemerintah memprioritaskan sejumlah agenda utama, mulai dari diplomasi chip, penguatan pasokan energi untuk pusat data, pengembangan talenta AI dan semikonduktor, penguatan kedaulatan data, hingga pengembangan teknologi AI yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik Indonesia.
Nezar menegaskan keberhasilan Indonesia menjadi kekuatan teknologi strategis menuju Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada konsistensi membangun fondasi digital secara berkelanjutan.
“Kekuatan digital pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi semata. Ini tentang kemauan politik, kemauan untuk mempertahankan strategi lintas pemerintahan, untuk membangun institusi secara bertahap, dan memutuskan masa depan geopolitik baru Indonesia,” pungkas Wamen Nezar.






