• Kabar Makassar
  • Kabar Jawa
  • Kabar Sunda
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Kalimantan
  • Serambi Muslim
KabarIndonesia.id
  • Home
  • AI
    • Bisnis dan Ekosistem
    • Edukasi dan Masa Depan
    • Regulasi dan Etika
    • Industri dan Terapan
    • Inovasi dan Tren
  • Nasional
  • Daerah
    • Jawa Bali
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Nusa Tenggara
    • Papua
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Pajak
    • Syariah
  • Politik
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Film dan Musik
    • Otomotif
    • Teknologi
  • Lainnya
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Cek Fakta
    • Video
    • Indeks
No Result
View All Result
Kabar Indonesia
No Result
View All Result
  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

Skandal Mafia Tanah di Tangerang: Laut Disulap Jadi Daratan Fiktif, Hasilkan Rp39,6 Miliar

by Firman Marlon
1 Oktober 2025
Home Hukum dan HAM
Share ke FBShare ke XShare di WA

KabarIndonesia.id — Sebuah skandal tanah dengan modus operandi yang tergolong luar biasa licik tengah disidangkan di Pengadilan Negeri Serang. Kasus ini menyeret nama Arsin, Kepala Desa (Kades) Kohod, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, bersama tiga perangkat desanya. Mereka didakwa sebagai otak di balik penjualan ratusan hektare “daratan semu” yang sejatinya merupakan wilayah laut.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Banten, Faiq Nur Fiqri Sofa, dalam sidang pada Selasa (30/9/2025) memaparkan kronologi kasus yang disebut sebagai salah satu praktik mafia tanah paling nekat di Banten dalam dua dekade terakhir.

Awal Mula: Tanah Berpatok Bambu

Kisah bermula pada pertengahan 2022, saat Arsin menawarkan sebidang lahan di pinggir laut kepada Denny Prasetya Wangsya, perwakilan PT Cakra Karya Semesta. Lahan itu hanya ditandai dengan patok-patok bambu di tepi pantai.

“Tawaran pertama ditolak karena tidak memiliki sertifikat yang sah,” ungkap jaksa.

Namun, penolakan tersebut tak membuat Arsin mundur. Justru dari situlah ia menyusun strategi lebih canggih dengan menggandeng seorang pengusaha bernama Hasbi Nurhamdi, yang kemudian menjadi motor penggerak skema mafia tanah ini.

Hasbi menjanjikan imbalan besar: Rp500 juta bila Arsin mampu menghadirkan dokumen kepemilikan yang terlihat sah.

Rekayasa Dokumen: Dari KTP hingga Pajak PBB

Untuk mewujudkan daratan fiktif, Arsin dan para perangkat desa mulai mengumpulkan KTP dan KK warga Kohod. Nama-nama warga itu dicatut sebagai pemohon semu dalam penerbitan Surat Keterangan Tanah Garapan (SKTG).

Dalam satu hari, 20 Juni 2022, sebanyak 203 SKTG diterbitkan dengan luas total sekitar 300 hektare—luas yang sejatinya hanyalah perairan laut.

Warga yang tidak memahami modus tersebut dijanjikan bagian 40 persen dari hasil penjualan, sementara 60 persen sisanya akan dikuasai oleh Arsin cs bersama Hasbi.

Dokumen-dokumen ini dicetak menggunakan komputer dan printer milik Sekretaris Desa Ujang Karta. Tak berhenti di situ, Arsin kemudian menerbitkan surat pengantar resmi yang diteken olehnya sendiri. Surat inilah yang dipakai Hasbi untuk mengelabui Bapenda Kabupaten Tangerang.

Hasilnya, 203 SPPT-PBB berhasil terbit, seakan-akan tanah laut tersebut sah dan sudah membayar pajak.

“Dengan adanya dokumen pajak, seolah-olah lahan fiktif itu benar-benar ada dan sudah terdaftar dalam sistem,” tegas jaksa.

Transaksi Gila-Gilaan: Dari Puluhan Miliar ke Perusahaan Besar

Setelah dokumen terlihat sah, dua perangkat desa lainnya, Septian Prasetyo dan Chandra Eka Agung Wahyudi, bergerak mengurus dokumen tambahan agar sertifikat tanah (SHM) bisa segera keluar. Atas jasanya, Hasbi menggelontorkan dana Rp250 juta secara bertahap.

Pada periode Juli–September 2024, Septian bertindak sebagai perwakilan warga Kohod untuk meneken perjanjian jual beli dengan PT Cakra Karya Semesta.

Kesepakatan itu memuncak pada Januari 2025, saat perusahaan menyerahkan dana Rp16,5 miliar kepada Arsin sebagai pembayaran.

Tak berhenti di situ, lahan fiktif ini kembali dialihkan ke PT Intan Agung Makmur dengan harga yang lebih fantastis: Rp39,6 miliar.

Pembagian Hasil: Warga Kebagian Sisa, Mafia Kantongi Untung Besar

Dari hasil penjualan pertama, sekitar Rp4 miliar dibagikan kepada warga yang namanya dipinjam. Namun, jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan bagian yang dikuasai komplotan mafia tanah.

Jaksa merinci, Rp12,5 miliar dikuasai Hasbi dan dibagi-bagikan kepada para terdakwa. Arsin sendiri mendapat jatah Rp500 juta, Ujang Karta Rp85 juta, sementara Septian dan Chandra masing-masing mengantongi Rp250 juta.

“Skema ini jelas-jelas merugikan banyak pihak, termasuk negara, karena memalsukan dokumen resmi untuk lahan yang sebenarnya tidak pernah ada,” ujar JPU.

Jeratan Hukum dan Dampak Lebih Luas

Kini, Arsin bersama perangkat desanya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di pengadilan. Mereka dijerat dengan pasal berlapis, mulai dari tindak pidana korupsi, penyalahgunaan kewenangan, hingga pemalsuan dokumen negara.

Kasus ini sekaligus membuka mata publik tentang kerentanan sistem administrasi pertanahan di Indonesia, yang bisa disusupi oleh mafia untuk mengubah laut menjadi daratan fiktif bernilai miliaran rupiah.

Praktik serupa, bila tidak diantisipasi, bisa menimbulkan kerugian besar bagi negara dan masyarakat, terutama di kawasan pesisir yang kerap rawan konflik agraria.

Tags: Kades Kohod

Firman Marlon

Next Post
ahli hukum dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Herlambang Wiratraman.

Ahli UGM: Program MBG Berpotensi Geser Hak Pendidikan dan Kesehatan

Recommended.

195 Ribu Visa Jemaah Haji Regular Indonesia Terbit

Hingga 15 Zulhijjah 1445 H, Visa Ziarah Dilarang ke Mekkah

30 Mei 2024
Di Tengah Ketegangan Global, Indonesia Perkuat Swasembada Energi dari Sawit hingga Singkong

Di Tengah Ketegangan Global, Indonesia Perkuat Swasembada Energi dari Sawit hingga Singkong

13 Maret 2026

Subscribe.

Trending.

PBB Rilis Laporan Ilmiah AI Pertama, Peringatkan Regulasi Tertinggal dan Ancaman Teknologi Makin Nyata

PBB Rilis Laporan Ilmiah AI Pertama, Peringatkan Regulasi Tertinggal dan Ancaman Teknologi Makin Nyata

3 Juli 2026
AI Premium Tak Lagi Mahal, Kabuzen AI Sasar Pelajar dan Mahasiswa

AI Premium Tak Lagi Mahal, Kabuzen AI Sasar Pelajar dan Mahasiswa

30 Juni 2026
DPR Usul AI Bantu Diagnosis di Daerah, Ini Tanggapan Menkes

DPR Usul AI Bantu Diagnosis di Daerah, Ini Tanggapan Menkes

25 Juni 2026
Google DeepMind Gandeng A24 Kembangkan AI untuk Produksi Film

Google DeepMind Gandeng A24 Kembangkan AI untuk Produksi Film

25 Juni 2026
Prabowo Samakan Risiko AI dengan Nuklir, Sebut Bisa Mengancam Peradaban

Prabowo Soroti Fenomena Agen AI, Siapkan Penguatan SDM dan Riset Indonesia

30 Juni 2026
Kabar Indonesia

Aktual, akurat, berbasis data mengabarkan Indonesia.

Pengelola

PT. Kabar Grup Indonesia

Alamat Redaksi:
Office Park OL3.12A, The Bellagio Mall Jl. Kawasan Mega Kuningan Kav.E.4.3, Setiabudi, Jakarta Selatan
Email: info@kabarindonesia.id

Rubrik

  • AI
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Politik & Pemilu
  • Olahraga
  • Cek Fakta

Jaringan Media

  • Kabar Makassar
  • Kabar Jawa
  • Kabar Sunda
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Kalimantan
  • Rujukan Desa
  • Serambi Muslim

Media Sosial

Follow Us

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Kabar Indonesia - Managed by Kabar Grup Indonesia.

No Result
View All Result
  • Home
  • AI
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik & Pemilu
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Cek Fakta
  • Video
  • Indeks

© 2026 Kabar Indonesia - Managed by Kabar Grup Indonesia.

Not enough quota to unlock this post
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Exit mobile version