KABARINDONESIA.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2026 mencapai 2,88 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 2,37 persen.
BPS menyebut inflasi terjadi akibat kenaikan harga yang tercermin dari meningkatnya indeks pada seluruh kelompok pengeluaran masyarakat.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil sebesar 0,87 persen. Selanjutnya diikuti kelompok transportasi sebesar 0,62 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,61 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,25 persen.
Sementara itu, secara tahunan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat tingkat inflasi tertinggi, yakni mencapai 9,04 persen.
“Inflasi yoy tertinggi terjadi pada subkelompok perawatan pribadi lainnya sebesar 21,88 persen sedangkan terendah terjadi pada subkelompok perlindungan sosial sebesar 0,97 persen,” tulis BPS dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).
Transportasi dan Pangan Ikut Dorong Inflasi
Selain kelompok perawatan pribadi, inflasi tahunan juga terjadi pada kelompok transportasi sebesar 5,12 persen, makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,97 persen, serta penyediaan makanan dan minuman sebesar 2,55 persen.
BPS juga mencatat sejumlah komoditas yang memberikan andil dominan terhadap inflasi tahunan Juli 2026, di antaranya ikan segar, minyak goreng, beras, daging ayam ras, cabai merah, hingga daging sapi.
Secara keseluruhan, inflasi tahunan Juli 2026 tercatat dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,73.
Papua Barat Catat Inflasi Tertinggi
Pada tingkat provinsi, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat sebesar 5,47 persen dengan IHK sebesar 114,49.
Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Provinsi Papua Selatan sebesar 1,46 persen dengan IHK sebesar 114,28.
“Sedangkan terendah terjadi di Provinsi Papua Selatan sebesar 1,46 persen dengan IHK sebesar 114,28,” tulis BPS.
BI Proyeksikan Inflasi Tetap Stabil
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan tekanan inflasi pada Juli 2026 masih relatif stabil, meskipun diproyeksikan meningkat pada Oktober 2026.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan kondisi tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 yang berada di level 175,8, relatif stabil dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 175,6.
“Sementara itu, IEH Oktober 2026 diprakirakan sebesar 167,6, lebih tinggi dibandingkan IEH September 2026 sebesar 163,2 didorong oleh kenaikan harga bahan baku,” ujar Ramdan dalam keterangannya.
Proyeksi tersebut menunjukkan tekanan harga diperkirakan masih berada dalam kondisi terkendali dalam jangka pendek, meski kenaikan biaya bahan baku berpotensi mendorong inflasi pada beberapa bulan mendatang.





