KABARINDONESIA.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Produsen (IHP) umum sembilan sektor pada triwulan II-2026 mengalami kenaikan.
IHP umum naik 2,83 persen dibandingkan triwulan I-2026 atau secara quarter-to-quarter (q-to-q). Sementara jika dibandingkan dengan triwulan II-2025 atau secara year-on-year (y-on-y), IHP umum naik 5,62 persen.
Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan harga di tingkat produsen pada hampir seluruh sektor yang diamati BPS. Sektor pertambangan dan penggalian menjadi sektor dengan kenaikan paling tinggi, baik secara triwulanan maupun tahunan.
Pada triwulan II-2026, IHP sektor pertambangan dan penggalian naik 8,03 persen dibandingkan triwulan I-2026. Secara tahunan, sektor ini mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 16,86 persen dibandingkan triwulan II-2025.
Kenaikan juga terjadi pada sektor pengangkutan. IHP sektor ini naik 4,42 persen secara q-to-q dan meningkat 6,01 persen secara y-on-y.
Sementara itu, sektor industri pengolahan mencatat kenaikan 2,57 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, IHP industri pengolahan naik 4,94 persen.
BPS juga mencatat IHP sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 1,36 persen secara q-to-q. Secara tahunan, sektor ini mengalami kenaikan 3,79 persen.
Untuk sektor pengadaan listrik dan gas, IHP naik 1,33 persen dibandingkan triwulan I-2026. Secara y-on-y, sektor ini naik 2,22 persen.
Kenaikan lebih rendah terjadi pada sektor pengelolaan air. IHP sektor ini naik 0,38 persen secara q-to-q dan meningkat 3,80 persen secara y-on-y.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum turut mencatat kenaikan. IHP sektor ini naik 1,11 persen dibandingkan triwulan I-2026 dan naik 2,65 persen dibandingkan triwulan II-2025.
Adapun sektor jasa pendidikan menjadi sektor dengan kenaikan paling rendah secara triwulanan. IHP jasa pendidikan hanya naik 0,03 persen secara q-to-q, sedangkan secara tahunan naik 1,60 persen.
Sektor jasa kesehatan juga mengalami kenaikan terbatas. IHP sektor ini naik 0,34 persen dibandingkan triwulan sebelumnya dan naik 1,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara umum, data tersebut memperlihatkan tekanan harga di tingkat produsen masih berlanjut pada triwulan II-2026. Kenaikan paling kuat berasal dari sektor pertambangan dan penggalian, disusul pengangkutan dan industri pengolahan.
Pergerakan IHP menjadi salah satu indikator penting untuk membaca dinamika harga di sisi produsen. Kenaikan harga di tingkat produsen dapat memberi gambaran awal terhadap tekanan biaya produksi, distribusi, hingga potensi pengaruhnya terhadap harga barang dan jasa di tingkat konsumen.





